Curator

Bab 1: Bakat Pertama

by AAR Nugroho25 mnt baca
0 kalimat

Udara di ruang tamu itu terasa berat. Ario, enam tahun dengan lutut kotor dan rambut kusut, duduk bersila di lantai kayu yang berderit setiap kali ia bergeser. Matanya yang hitam terpaku pada benda di tangannya: sebuah sendok perak tua, permukaannya kusam oleh goresan-goresan halus. Bau logam menusuk hidungnya, bercampur aroma kopi dari cangkir ayahnya di meja. Jam dinding berdetak lebih keras dari biasanya, tik-tak, tik-tak.

Ibu selalu berkata, jangan sentuh barang-barang Mbah Putri. Tapi Mbah Putri sudah lama pergi—pergi yang berbeda dari pergi biasa, pergi yang membuat orang dewasa menundukkan kepala dan berbicara dengan suara pelan. Perempuan tua itu meninggalkan rumah ini dalam keadaan terkunci rapat, kecuali ruang tamu yang masih dipenuhi barang-barangnya: vas bunga retak, kain batik yang terlipat rapi di sudut, dan kotak kayu berisi peralatan makan yang entah mengapa selalu membuat Ario penasaran. Sendok itu tergeletak di atas tumpukan serbet kain, seolah menunggu untuk diambil. Dan sekarang, setelah ia diam-diam menyelinap masuk, benda itu terasa dingin di telapak tangannya, seperti bongkah es yang baru dikeluarkan dari lemari pendingin.

Ia sebenarnya tidak berniat menyentuhnya. Niatnya hanya melihat. Tapi tangan kecilnya bergerak sendiri, dan ketika ujung jarinya menyapu gagang sendok, semuanya berubah.

Tiba-tiba, gambar-gambar itu muncul.

Bukan seperti mimpi, bukan pula seperti khayalan. Lebih seperti kilasan cahaya yang menerobos masuk ke kepalanya tanpa permisi. Ario melihat seorang perempuan tua—Mbah Putri, pasti—duduk di kursi rotan sambil mengaduk-aduk gula dalam cangkirnya. Suaranya pelan, tapi jelas, seolah perempuan itu berbicara langsung di telinganya. Jangan sampai hilang, ya. Ini warisan dari nenekmu. Lalu bayangan itu berganti. Perempuan yang sama, tapi kali ini wajahnya pucat, bibirnya bergetar saat menggenggam sendok itu erat-erat. Aku takut, bisiknya. Dan kemudian, kegelapan.

Ario tersentak. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang lebih aneh: ia tiba-tiba tahu hal yang seharusnya tidak ia ketahui. Sendok itu terasa lebih berat sekarang. Ia menatapnya, lalu menatap tangannya sendiri, tak mengerti apa yang baru saja terjadi.

Ia mencoba mengulanginya. Ia memejamkan mata, menekan sendok itu lebih erat, menunggu gambar-gambar itu datang lagi. Tapi yang ada hanya gelap, dan suara jam yang terus berdetak. Ketika ia membuka mata, sendok itu kembali menjadi sekadar sendok—tua, kusam, biasa. Tapi dadanya masih terasa nyeri pelan, seperti habis terbentur.

“Kamu ngapain di sini?“

Suara itu membuat Ario terlonjak hingga sendok hampir terlepas dari genggamannya. Ia menoleh dan melihat Dini berdiri di ambang pintu, tangan kanannya bertolak pinggang, alisnya terangkat setinggi mungkin. Kakak perempuannya itu—hanya dua tahun lebih tua—selalu berhasil membuatnya merasa seperti penjahat yang tertangkap basah.

“Nggak apa-apa,“ jawab Ario cepat, menyembunyikan sendok di belakang punggungnya. “Cuma lihat-lihat.“

Dini melangkah masuk, sandalnya berdecit di lantai kayu. “Bohong. Mama bilang, jangan sentuh barang Mbah Putri. Kamu lupa?“

Ario menggigit bibir. Dini benar, dan justru itu yang membuatnya enggan mengakui apa yang baru saja terjadi. Bagaimana ia bisa menjelaskan sesuatu yang ia sendiri tak punya kata-katanya? “Sendoknya cuma jatuh. Aku mau taruh lagi.“

Dini menghela napas, lalu duduk di sebelahnya tanpa diminta. Lantai kayu mengeluh di bawah berat mereka berdua. “Kamu aneh, tahu nggak? Dari dulu suka main sama barang-barang tua. Ingat waktu kamu bawa pulang batu dari sungai, terus bilang itu punya cerita? Mama sampai marah.“

Ario tidak menjawab. Ia tahu Dini tidak akan mengerti. Kakaknya itu lebih suka hal-hal yang pasti: matematika, komik, dan film horor yang justru membuatnya tertawa ketakutan. Tapi Ario? Ia selalu merasa ada sesuatu yang lebih di balik benda-benda biasa. Sesuatu yang menempel, yang menunggu, yang ingin diceritakan. Seperti sekarang.

“Kamu kok diam?“ Dini mencondongkan tubuh, mencoba mengintip apa yang disembunyikan Ario. “Apa yang kamu pegang?“

“Nggak apa-apa,“ ulang Ario, tapi suaranya bergetar dan ia tahu Dini mendengarnya.

Dini mengulurkan tangan. “Kasih sini.“

Ario ragu. Ia ingin sekali menceritakan apa yang baru saja terjadi, tapi kata-kata terasa macet di tenggorokan, seperti air yang tak mau keluar dari keran yang seret. Akhirnya, ia mengulurkan sendok itu, tapi dengan gerakan pelan, seolah takut benda itu akan meledak di tangan kakaknya.

Dini mengambilnya, memutar-mutar sendok di antara jari-jarinya. Cahaya sore yang masuk lewat jendela memantul samar di permukaannya. “Sendok biasa. Apa yang spesial?“

Ario menelan ludah. “Aku... aku lihat sesuatu.“

Dini menatapnya, ekspresi wajahnya campuran antara tidak percaya dan khawatir. “Lihat apa?“

“Mbah Putri. Dia... dia takut.“

Dini terdiam sejenak. Lalu tawa kecil keluar dari bibirnya, tawa yang tidak jahat tapi juga tidak benar-benar percaya. “Astaga, Rio. Kamu bikin cerita horor lagi, ya? Ingat waktu kamu bilang pohon di belakang rumah itu hantu? Mama sampai panggil tukang potong pohon.“

“Itu beneran!“ protes Ario, tapi suaranya melemah di tengah jalan. Ia tahu bagaimana kedengarannya. Gila. Anak kecil yang terlalu banyak menonton film kartun dan terlalu sedikit bermain dengan teman sebaya.

Dini mengembalikan sendok itu, meletakkannya di telapak tangan Ario dengan hati-hati, seolah menyerahkan sesuatu yang rapuh. “Simpan aja. Tapi jangan bilang-bilang Mama, ya. Nanti kamu dimarahin lagi.“

Ario mengangguk, tapi hatinya berat. Ia tahu apa yang dilihatnya bukan khayalan. Dadanya masih terasa nyeri, dan suara Mbah Putri masih terngiang samar di kepalanya. Tapi bagaimana ia bisa menjelaskannya? Bagaimana ia bisa membuat Dini—atau siapa pun—percaya?


Malam itu, setelah makan malam dan doa bersama, rumah kecil itu perlahan tenggelam dalam keheningan. Ayah duduk di ruang depan dengan koran dan radio yang bersuara pelan; ibu membereskan piring di dapur; Dini sudah masuk kamar dengan komiknya. Ario berbaring di tempat tidurnya, menatap langit-langit kamar yang penuh retakan. Dari luar jendela, jangkrik bersahut-sahutan. Ia memejamkan mata, mencoba tidur, tapi gambar-gambar itu kembali muncul tanpa diminta—Mbah Putri, cangkir kopi, dan rasa takut di detik-detik terakhir penglihatannya.

Aku takut, kata perempuan tua itu lagi, dan Ario tidak tahu mengapa kalimat sependek itu bisa terasa seberat batu.

Lalu, sesuatu yang lebih aneh terjadi.

Tiba-tiba, ia merasa sesuatu. Bukan melihat, bukan mendengar, tapi merasa—seakan ada yang mengamatinya dari dalam kamar. Ia membuka mata, napasnya tercekat. Di sudut kamar, dekat lemari pakaian, bayangan bergerak. Bukan bayangan biasa dari cahaya lampu jalan. Ini lebih padat, lebih nyata, seperti asap hitam yang memaksakan diri membentuk sosok manusia.

Ario ingin berteriak, tapi tenggorokannya terasa tercekik, seolah ada yang menahannya dari dalam. Bayangan itu melayang mendekat, pelan, tanpa suara langkah. Dan tiba-tiba, ia mendengar suara—suara yang bukan suara, melainkan getaran di kepalanya, seperti dengung yang berubah menjadi kata.

Tolong...

Ario terlonjak duduk, keringat dingin membasahi keningnya dan punggungnya. Ia menatap sekeliling dengan napas terengah, tapi kamarnya kosong. Sudut dekat lemari hanya berisi bayangan biasa sekarang. Hanya ada suara napasnya sendiri yang memburu, dan detak jantungnya yang terasa sampai ke ujung jari.

Di lantai, di dekat pintu kamar, sendok perak itu tergeletak. Memantulkan sedikit cahaya. Diam.

Ario yakin ia tidak membawanya ke kamar. Ia ingat betul menyimpannya di laci meja belajar, di bawah tumpukan buku gambar. Tapi sekarang benda itu ada di sana, di lantai, seakan berjalan sendiri dalam gelap.

Ia menarik selimut hingga ke dagu dan tidak berani memejamkan mata sampai pagi.


Pagi harinya, Ario duduk di meja makan, mengaduk-aduk bubur ayamnya tanpa selera. Mangkuk itu sudah dingin, butiran nasi menggumpal, tapi ia tidak peduli. Matanya berkantung, kepalanya berat. Ibu sedang sibuk di dapur, suara penggorengan berdesis pelan, sementara Dini asyik dengan buku komiknya, sesekali tertawa kecil pada lelucon yang hanya ia mengerti. Ayah sudah berangkat kerja sejak subuh.

“Kamu kenapa, Rio? Kok murung?“ Ibu meletakkan sepiring pisang goreng yang masih hangat di meja, aromanya manis dan menggoda, tapi Ario tidak tergerak.

Ario mengangkat bahu. “Nggak apa-apa.“

Ibu menatapnya lekat, lama, dengan tatapan yang membuat Ario merasa seperti kaca bening. Lalu ia mengusap rambut anaknya pelan. Tangannya hangat dan berbau bawang. “Kamu pasti belum cerita sama Mama tentang apa yang kamu lihat kemarin, ya?“

Ario terkejut. Sendok itu terjatuh dari tangannya ke dalam mangkuk, menciptakan bunyi kecil. “Mama tahu?“

Ibu tersenyum, tapi matanya sayu, seperti langit sebelum hujan. Ia menarik kursi dan duduk di hadapan anaknya, mengabaikan penggorengan untuk sesaat. “Mama juga pernah kayak kamu. Dulu.“

Dini mendongak dari komiknya, matanya membulat. “Mama pernah lihat hantu juga?“

Ibu tertawa kecil, tawa yang tidak sepenuhnya gembira. “Bukan hantu. Tapi... sesuatu yang mirip.“ Ia menarik napas dalam-dalam, seakan menimbang seberapa banyak yang boleh ia ceritakan kepada dua anak kecil ini. “Mama pernah lihat bayangan orang yang sudah meninggal. Di depan mata, sejelas Mama lihat kalian sekarang. Persis kayak kamu lihat Mbah Putri.“

Ario menatap ibunya, tak percaya bahwa kata-kata yang selama ini ia kira hanya miliknya sendiri ternyata juga hidup di dalam dada ibunya. “Mama beneran?“

Ibu mengangguk. “Tapi Mama nggak pernah cerita ke siapa-siapa. Orang-orang pasti bilang Mama gila. Bahkan kakek nenekmu dulu menyuruh Mama diam, pura-pura nggak lihat apa-apa.“ Ada sesuatu yang getir di suaranya, sesuatu yang lama terpendam.

Ario merasa lega sekaligus takut. Lega karena ia tidak sendirian. Takut karena, jika ibunya yang sudah dewasa pun tak punya jawaban, lalu siapa yang punya? “Jadi... apa artinya ini, Ma?“

“Kamu harus hati-hati, Rio,“ kata ibu pelan, suaranya turun hingga hampir berbisik agar tidak terdengar tetangga lewat dinding tipis. “Kemampuan kayak gini... bisa jadi anugerah, bisa juga jadi kutukan. Tergantung kamu bawanya gimana.“

Ario menelan ludah, teringat bayangan di sudut kamar semalam, dan suara yang memohon di kepalanya. “Apa... apa aku harus berhenti? Biar nggak lihat lagi?“

Ibu tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca. Ia meraih tangan kecil Ario dan menggenggamnya erat. “Mama nggak bisa jawab itu, sayang. Mama sendiri nggak pernah bener-bener berhenti. Tapi satu hal yang Mama tahu—kamu nggak boleh takut sama apa yang kamu lihat. Karena mereka... mereka kadang cuma butuh kamu. Butuh ada yang dengar.“

“Mereka?“ Dini menyela, alisnya berkerut. “Mama ngomong apa, sih? Serem, tahu.“

“Sudah, sudah.“ Ibu mengusap kepala Dini juga, menyeimbangkan, seperti yang selalu ia lakukan. “Makan dulu, nanti telat sekolah. Lupakan obrolan ini.“ Tapi sebelum bangkit, ia menatap Ario sekali lagi, lama, seakan ingin menanamkan sesuatu yang dalam ke benak anaknya.

Di luar jendela, angin bertiup, menggoyangkan daun-daun pohon mangga di halaman, membuat bayang-bayangnya menari di lantai. Ario menatap sendok di tangannya, lalu menatap ibunya yang kembali ke dapur.

Dan untuk pertama kalinya, ia merasa ada sesuatu yang lebih besar menunggunya di depan. Sesuatu yang tak bisa ia hindari, secepat apa pun ia berlari.


Sekolah hari itu terasa seperti dunia lain bagi Ario—dunia yang terang, ribut, dan penuh hal-hal yang pasti. Ibu Guru Tri menulis angka-angka di papan tulis, kapur berderit, dan teman-teman sekelasnya menyalin dengan kepala tertunduk. Ario menatap papan tulis, tapi pikirannya jauh, melayang kembali ke sudut kamarnya, ke bayangan yang membentuk sosok, ke kata yang memohon di kepalanya.

“Ario.“ Suara Ibu Guru memanggil, membuat beberapa kepala menoleh. “Kamu sakit? Dari tadi Ibu lihat kamu melamun.“

“Nggak, Bu,“ jawab Ario cepat, meluruskan punggung. “Maaf, Bu.“

Ibu Guru menatapnya sebentar, lalu kembali ke papan tulis. Tapi seorang anak di sebelah Ario—Bagas, anak gemuk yang selalu membawa terlalu banyak bekal—berbisik sambil menyodok lengannya. “Kamu kenapa, sih? Pucat banget. Kayak abis lihat kuntilanak.“

Ario hampir tertawa, tapi tawanya tersangkut di tenggorokan. Kalau saja Bagas tahu. Kalau saja siapa pun tahu. “Cuma ngantuk,“ katanya, dan Bagas mengangkat bahu, sudah kehilangan minat, kembali memikirkan bekal nasi gorengnya.

Saat istirahat, Ario tidak ikut bermain kasti di halaman. Ia duduk di bawah pohon ketapang di pinggir lapangan, lututnya ditekuk, dagunya bertumpu di atasnya. Dari sana ia mengamati teman-temannya—cara mereka tertawa, berteriak, jatuh dan bangun lagi tanpa beban. Ia ingin menjadi seperti mereka. Ringan. Tidak melihat apa-apa selain yang ada di depan mata.

Tapi pohon ketapang ini pun punya cerita. Ario merasakannya samar saat punggungnya bersandar ke batang—getaran tipis, seperti detak yang sangat pelan, sisa dari entah berapa banyak anak yang pernah duduk di sini sebelum dia, menangis, tertawa, menunggu jemputan yang terlambat. Ia menjauhkan punggungnya dari batang itu, takut getaran itu membesar menjadi gambar.

Jangan dipikirkan, katanya pada diri sendiri, meniru kalimat yang sering ia dengar dari ayahnya. Jangan dipikirkan, nanti hilang sendiri.

Tapi ia mulai curiga itu bohong. Hal-hal seperti ini tidak pernah hilang sendiri. Mereka hanya menunggu kau lengah.


Sepulang sekolah, Ario tidak langsung pulang ke rumah. Kakinya, entah didorong apa, membawanya ke bagian belakang rumah Mbah Putri yang sudah lama kosong—rumah tempat sendok itu berasal, rumah yang kini hanya dijaga oleh ayahnya sesekali dan dikunci rapat-rapat. Dini sudah pulang lebih dulu bersama teman-temannya. Ario sendirian.

Rumah itu berdiri di ujung gang, terpisah dari rumah-rumah lain oleh sepetak kebun yang sudah liar. Cat dindingnya mengelupas, memperlihatkan lapisan-lapisan warna lama di bawahnya seperti luka yang tak kunjung sembuh. Jendela-jendelanya ditutup tirai usang. Tapi yang membuat Ario berhenti di pagar adalah perasaan itu—perasaan diawasi, perasaan bahwa rumah ini tidak benar-benar kosong.

Ia tidak masuk. Bahkan pada usia enam tahun, ada batas yang ia tahu tak boleh dilewati. Tapi ia berdiri di sana cukup lama, menatap jendela lantai atas, sampai ia yakin—atau setidaknya hampir yakin—bahwa tirai di salah satu jendela bergerak. Bukan karena angin. Bergerak seperti disibakkan oleh tangan, lalu dijatuhkan kembali.

Ario mundur selangkah. Lalu selangkah lagi. Dan kemudian ia berbalik dan berlari pulang, tas punggungnya berayun-ayun, jantungnya berdebar menabuh genderang di dadanya.

Ia tidak menceritakan ini kepada siapa pun.


Malam kedua datang lebih cepat dari yang Ario inginkan.

Ia sudah berusaha. Ia menyimpan sendok itu jauh-jauh, kali ini di dalam kotak sepatu di bawah tempat tidur, dibungkus kaus kaki, ditindih buku-buku. Ia berdoa lebih lama dari biasanya. Ia membiarkan lampu kamar menyala—alasannya pada ibu, ia takut gelap, dan ibu hanya mengangguk dengan tatapan yang tahu lebih banyak dari yang ia katakan.

Tapi cahaya lampu tidak menolong. Justru membuat bayangan-bayangan punya bentuk yang lebih tajam.

Ario terbangun di tengah malam tanpa tahu apa yang membangunkannya. Kamar terasa lebih dingin, dingin yang tidak wajar untuk malam di kota yang gerah. Napasnya, kalau ia perhatikan, mengepul tipis seperti di pagi berkabut. Dan di sudut yang sama—dekat lemari—sosok itu ada lagi.

Kali ini lebih jelas.

Bukan Mbah Putri. Ini sosok yang lebih kecil, seukuran anak-anak, berdiri dengan kepala sedikit menunduk. Asap hitam yang membentuknya bergulung pelan, seperti tinta yang diteteskan ke air. Ario tidak bisa melihat wajahnya, tapi ia tahu—dengan cara yang sama seperti ia tahu isi sendok itu—bahwa sosok ini sedih. Sedih yang dalam, sedih yang tak punya dasar.

“Kamu... siapa?“ bisik Ario, suaranya nyaris tak terdengar bahkan oleh dirinya sendiri.

Sosok itu mengangkat kepala. Dan meski tak ada wajah yang bisa dilihat, Ario merasakan tatapannya, menusuk langsung ke dada.

Tolong... Getaran itu lagi, kata yang sama. Aku mau pulang.

“Pulang ke mana?“ Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Ario, entah karena takut atau karena kesedihan yang merembes dari sosok itu ke dalam dirinya. “Aku nggak tahu kamu siapa. Aku nggak tahu harus gimana.“

Sosok itu melangkah maju—atau mengambang maju, karena kakinya tak menyentuh lantai. Suhu kamar turun lagi. Lampu di langit-langit berkedip sekali, dua kali.

Dan kemudian pintu kamar terbuka.

“Rio?“

Cahaya dari lampu lorong masuk, dan dalam sekejap, sosok itu menipis, larut, hilang seperti asap yang ditiup angin. Suhu kamar kembali normal begitu cepat hingga Ario sempat ragu apakah ia hanya bermimpi. Ibu berdiri di ambang pintu dengan daster dan rambut tergerai, wajahnya cemas.

“Mama dengar kamu ngomong sama siapa,“ kata ibu pelan, melangkah masuk dan duduk di tepi tempat tidur. “Sama siapa, Rio?“

Ario tidak bisa berbohong. Tidak kepada ibunya, tidak setelah pagi tadi. “Anak kecil,“ bisiknya. “Di pojok. Dia bilang mau pulang.“

Ibu menatap sudut kamar yang kini kosong, lama, seakan ia pun mencoba melihat. Lalu ia menarik Ario ke dalam pelukannya. Tubuhnya hangat, dan bau bawang dari pagi sudah berganti dengan bau minyak kayu putih. “Mama di sini,“ katanya. “Mama nggak akan biarin apa pun nyakitin kamu.“

“Tapi dia nggak nyakitin aku, Ma,“ kata Ario, suaranya teredam di bahu ibunya. “Dia cuma... sedih. Dia kayak nyari sesuatu.“

Ibu terdiam lama. Ketika ia berbicara lagi, suaranya berbeda—lebih serius, lebih dewasa, seakan ia tidak lagi bicara pada anak enam tahun tapi pada seseorang yang harus segera memahami sesuatu yang besar. “Dengar, Rio. Suatu hari nanti, kalau kamu udah lebih besar, Mama akan ajak kamu ketemu seseorang. Namanya Mbah Lestari. Beliau ibu Mama—nenek kamu, masih hidup, beda sama Mbah Putri. Mbah Lestari ngerti soal beginian. Lebih ngerti dari Mama. Beliau bisa ajarin kamu apa yang Mama nggak bisa.“

“Sekarang aja, Ma,“ pinta Ario. “Aku takut tidur.“

Ibu tersenyum dan mengusap air mata di pipi anaknya dengan ibu jari. “Belum waktunya, sayang. Kamu masih terlalu kecil buat beban itu. Sekarang, kamu cukup tahu satu hal: kamu nggak sendirian. Nggak akan pernah.“

Ia berbaring di samping Ario malam itu, menyanyikan lagu pelan yang Ario tidak kenal—lagu Jawa lama, lembut dan sedih, yang katanya dulu dinyanyikan Mbah Lestari untuknya. Ario tertidur sebelum lagu selesai, dan untuk pertama kalinya sejak menyentuh sendok itu, ia tidur tanpa mimpi.


Hari-hari berikutnya berlalu dengan rutinitas yang menipu. Ario sekolah, makan, bermain sedikit, tidur. Dari luar, ia tampak seperti anak biasa. Tapi di dalam, ada bagian dirinya yang selalu waspada, selalu mendengarkan suara yang tak terdengar oleh orang lain, selalu mengintip sudut-sudut ruangan untuk memastikan tak ada yang bergerak di sana.

Sosok anak kecil itu tidak muncul lagi selama beberapa malam. Tapi Ario tidak merasa lega. Ia merasa seperti seseorang yang menahan napas, menunggu sesuatu yang ia tahu pasti akan kembali.

Pada hari Minggu, ayah mengajaknya ikut membersihkan rumah Mbah Putri. Ibu menolak ikut—ada alasan yang tak diucapkan di balik wajahnya yang mendadak tegang—tapi ayah bersikeras bahwa rumah itu tidak boleh dibiarkan terlantar terus. “Itu peninggalan keluarga,“ kata ayah. “Suatu saat akan jadi milik kalian, kamu dan Dini.“

Maka pergilah mereka, ayah dengan ember dan sapu, Ario dengan rasa penasaran yang bercampur takut. Kunci besar berderit di gembok yang berkarat. Pintu terbuka dengan keluhan panjang, dan bau yang menyergap dari dalam membuat Ario menutup hidung—bau debu, kayu lapuk, dan sesuatu yang manis-asam, seperti bunga yang membusuk dalam vas yang lama tak diganti airnya.

“Jangan ke mana-mana,“ kata ayah, mulai menyapu ruang depan. “Main di sini aja, di dekat Ayah.“

Tapi Ario tidak bisa diam. Ada tarikan, tarikan yang sama yang dulu membawanya ke sendok itu, kini membawanya menyusuri lorong sempit menuju kamar belakang. Lantainya berdebu, jejak kakinya tertinggal jelas, satu-satunya jejak baru di antara debu yang tak tersentuh bertahun-tahun. Ia berhenti di depan sebuah pintu kamar yang setengah terbuka.

Di dalam, ada ranjang besi tua dengan kasur yang sudah kempis. Di sampingnya, meja kecil dengan cermin yang berbintik-bintik hitam karena usia. Dan di atas meja itu, sebuah bingkai foto.

Ario mendekat. Foto hitam putih, sudah menguning di tepinya. Seorang perempuan tua duduk di kursi rotan—Mbah Putri, sosok yang sama dari penglihatannya. Tapi yang membuat Ario membeku adalah anak kecil yang berdiri di sampingnya. Anak perempuan, mungkin sepuluh tahun, dengan rambut dikepang dan senyum yang malu-malu.

Tangan Ario terulur sebelum ia sempat berpikir. Begitu ujung jarinya menyentuh bingkai—

Ruang tamu di sekelilingnya seakan lenyap, dan sebuah penglihatan menggantikannya.

Ia melihat ruang yang sama, tapi hidup, terang, dipenuhi suara. Mbah Putri yang lebih muda menyisir rambut anak perempuan itu, keduanya tertawa. “Nanti kalau Mbah sudah nggak ada, kamu yang jaga semua ini, ya, Nduk,“ kata Mbah Putri. Anak itu mengangguk. Lalu gambar berganti, lebih cepat, seperti seseorang membalik halaman dengan kasar—anak itu menangis, ruangan gelap, suara orang dewasa berteriak di kejauhan, dan rasa takut, rasa takut yang sama yang Ario rasakan dari sendok itu, membanjir masuk ke dadanya seperti air bah.

“Ario!“

Ia tersentak. Bingkai foto terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai, kacanya retak membentuk garis seperti petir. Ayah berdiri di ambang pintu, wajahnya pucat, sapu masih di tangannya.

“Kamu ngapain di sini?“ Suara ayah tajam, lebih tajam dari biasanya. Tapi di balik ketajaman itu, Ario menangkap sesuatu yang lain—ketakutan. “Sudah Ayah bilang jangan ke mana-mana.“

“Maaf, Yah.“ Ario menunduk, menatap bingkai yang retak. “Aku cuma... ada foto—“

Ayah melangkah cepat, memungut bingkai itu, menatap foto di dalamnya dengan ekspresi yang sulit Ario baca. Rahangnya mengeras. “Ini foto lama. Nggak penting.“ Tapi cara ayah menggenggamnya, cara matanya melekat pada wajah anak perempuan di foto itu, mengatakan sebaliknya.

“Yah, anak yang di foto itu siapa?“ tanya Ario.

Ayah terdiam lama. Begitu lama hingga Ario kira ia tidak akan menjawab. Lalu ayah meletakkan bingkai itu telungkup di meja, menyembunyikan foto. “Sudah, ayo pulang. Rumah ini nggak baik buat kamu.“

Ia menarik tangan Ario, agak terlalu kuat, dan menggiringnya keluar. Tapi sebelum mereka melewati pintu depan, Ario menoleh sekali ke lorong, dan di ujungnya, di depan kamar yang tadi, sosok anak perempuan berdiri. Mengepang rambut. Tersenyum malu-malu. Persis seperti di foto.

Lalu hilang.

Ario tidak berkata apa-apa sepanjang jalan pulang. Tapi sebuah pertanyaan menancap di benaknya, dalam dan tak mau lepas: kalau Mbah Putri sudah meninggal, dan anak di foto itu adalah seseorang yang penting bagi ayahnya, ke mana perginya anak itu? Dan mengapa ayah, lelaki yang tak pernah takut pada apa pun, terlihat begitu takut?


Malam itu, di meja makan, suasana terasa kaku. Ayah makan dalam diam, matanya kosong menatap piring. Ibu beberapa kali melirik ke arahnya, lalu ke arah Ario, seakan mencoba membaca apa yang terjadi di rumah Mbah Putri. Dini mengoceh tentang ulangan matematikanya, tidak menyadari ketegangan yang menggantung seperti kabut di ruangan.

Setelah Dini selesai dan pergi ke kamar, ibu akhirnya berbicara. “Ada apa di sana tadi?“ tanyanya pada ayah, suaranya hati-hati.

Ayah meletakkan sendoknya. “Dia pegang foto,“ katanya pendek. Tidak perlu menyebut foto apa. Ibu langsung mengerti; wajahnya berubah, dan tangannya berhenti di udara di atas piring.

“Harjo,“ kata ibu pelan, memanggil nama suaminya dengan nada yang Ario jarang dengar. “Anak ini... dia lebih kuat dari aku dulu. Mungkin lebih kuat dari siapa pun di keluarga ini. Kita nggak bisa terus nutupin.“

“Kita bisa,“ kata ayah, tegas, hampir keras. “Dan kita harus. Kamu tahu apa yang terjadi kalau kita nggak nutupin. Kamu tahu apa yang terjadi sama—“ Ia berhenti, melirik Ario yang pura-pura sibuk dengan buburnya. Lalu ia menurunkan suaranya hingga hampir tak terdengar. “Aku nggak akan kehilangan anakku juga. Nggak seperti dulu.“

Ibu tidak menjawab. Ia hanya menatap suaminya, dan di matanya ada air yang ia tahan agar tidak jatuh.

Ario mendengar semuanya. Ia tidak mengerti semuanya—belum—tapi ia menyimpannya, setiap kata, di tempat yang sama di mana ia menyimpan suara Mbah Putri dan sosok anak yang ingin pulang. Seperti dulu. Kehilangan. Potongan-potongan dari teka-teki yang terlalu besar untuk kepala enam tahunnya, tapi yang ia tahu, suatu hari nanti, harus ia susun sampai utuh.


Sebelum tidur, ibu masuk ke kamar Ario membawa sesuatu di tangannya. Sendok perak itu. Ario tidak tahu bagaimana ibu menemukannya di dalam kotak sepatu, tapi ia tidak bertanya.

“Mama nggak akan buang ini,“ kata ibu, duduk di tepi tempat tidur. “Karena membuangnya nggak akan bikin masalah hilang. Tapi Mama mau kamu janji satu hal.“ Ia meletakkan sendok itu di telapak tangan Ario, lalu menutupnya dengan tangannya sendiri. “Kalau kamu lihat sesuatu, apa pun itu, kamu cerita sama Mama. Jangan kayak Mama dulu, yang nyimpen semuanya sendiri sampai hampir gila. Janji?“

Ario menggenggam sendok itu, merasakan dinginnya yang sudah tidak lagi menakutkan, hanya akrab. “Janji, Ma.“

Ibu mengecup keningnya, mematikan lampu besar, dan menyalakan lampu tidur yang kecil. Di ambang pintu, ia berhenti. “Mereka butuh kamu, Rio,“ katanya, mengulang kalimat dari pagi itu, kalimat yang akan terus Ario bawa bertahun-tahun ke depan tanpa benar-benar memahaminya. “Tapi kamu juga butuh belajar kapan harus mendengar, dan kapan harus menutup pintu. Suatu hari, Mbah Lestari yang akan ngajarin kamu itu.“

Pintu tertutup pelan.

Ario berbaring menatap langit-langit yang retak, sendok di genggamannya, lampu kecil membuat bayangan-bayangan lembut di dinding. Di luar, jangkrik bernyanyi. Di suatu tempat di rumah, ia bisa mendengar suara ayah dan ibu yang masih berbicara pelan, kata-kata yang tak bisa ia tangkap.

Dan di sudut kamar—sudut yang sama—untuk sekejap, sebelum matanya terpejam, Ario merasa ada yang menatapnya. Bukan dengan ancaman. Hanya menunggu. Sabar. Seperti tahu bahwa anak kecil ini, suatu hari, akan tumbuh menjadi seseorang yang bisa mendengar mereka semua.

Sesuatu yang lebih besar memang menunggunya di depan.

Dan ia, tanpa benar-benar memilihnya, sudah mulai melangkah ke arahnya.


Seminggu kemudian, tepat saat Ario mulai berani percaya bahwa hidupnya bisa kembali biasa, sesuatu terjadi di sekolah.

Hari itu hujan turun sejak pagi, dan halaman sekolah berubah menjadi kubangan kecil di sana-sini. Karena tidak bisa bermain di luar, anak-anak berkerumun di koridor, ribut, saling dorong. Ario berdiri agak menjauh, bersandar ke dinding, memperhatikan tetesan air yang merembes dari atap yang bocor.

Lalu ia melihatnya. Di ujung koridor, dekat ruang kelas yang sudah lama tidak dipakai, seorang anak laki-laki berdiri sendirian. Anak itu basah kuyup—bukan basah karena hujan biasa, tapi basah seakan baru saja diangkat dari dalam air. Seragamnya menempel di tubuh, air menetes dari ujung rambut dan ujung jarinya, membentuk genangan kecil di lantai semen. Wajahnya pucat, bibirnya kebiruan.

Tidak ada anak lain yang menoleh padanya. Tidak ada guru yang menegur mengapa ia basah. Seolah ia tidak ada.

Ario tahu, dan kali ini ia langsung yakin tanpa ragu, bahwa anak itu memang tidak ada. Setidaknya, tidak dengan cara yang sama seperti anak-anak lain. Anak itu sudah mati.

Anak basah itu menoleh, dan matanya—kosong, kelabu, seperti kaca berkabut—menatap lurus ke arah Ario. Bibirnya bergerak. Tidak ada suara, tapi Ario menangkap getarannya, kata yang sama yang selalu datang.

Tolong.

Ario ingin lari. Tapi sesuatu menahannya—bukan rasa takut, melainkan kalimat ibunya yang terus terngiang. Mereka butuh kamu. Butuh ada yang dengar. Maka, dengan kaki yang gemetar, Ario tidak lari. Ia hanya berdiri, dan dengan suara yang nyaris tak keluar, ia berbisik, “Aku dengar kamu. Aku... aku nggak tahu harus gimana. Tapi aku dengar.“

Untuk sekejap, wajah pucat anak itu berubah. Bukan tersenyum—tapi sesuatu yang menyerupai kelegaan, kelegaan seseorang yang setelah lama berteriak di ruang kosong akhirnya tahu ada yang mendengar. Lalu anak itu memudar, dan genangan air di lantai pun menguap, tak meninggalkan jejak.

“Ario! Bel udah bunyi!“ Bagas menariknya dari belakang. “Kamu bengong lagi. Serius deh, kamu kenapa, sih, akhir-akhir ini?“

Ario membiarkan dirinya ditarik kembali ke kelas. Tapi sepanjang sisa hari itu, dan berhari-hari sesudahnya, ia tidak bisa melupakan wajah anak itu. Tidak bisa melupakan kelegaan yang muncul hanya karena ia berkata, aku dengar.

Mungkin itu yang dimaksud ibunya. Mungkin ia tidak harus selalu tahu cara menolong. Mungkin, kadang, cukup dengan tidak berpaling.


Malam itu, untuk pertama kalinya, Ario tidak takut pada gelap.

Ia berbaring di tempat tidurnya, sendok perak di laci, lampu tidur menyala redup. Di luar, hujan masih turun pelan, dan suaranya, untuk kali ini, terdengar menenangkan, bukan mengancam.

Ia tahu hidupnya tidak akan sama seperti anak-anak lain. Ia tahu akan ada lebih banyak sosok di sudut kamar, lebih banyak suara yang memohon, lebih banyak benda yang menyimpan cerita yang tak ingin ia ketahui. Ia tahu ayah akan terus berusaha menutupinya, dan ibu akan terus berusaha melindunginya, dan keduanya, dengan cara mereka sendiri, akan gagal—karena ini bukan sesuatu yang bisa ditutupi atau dilindungi. Ini bagian dari dirinya, sedalam tulang.

Tapi malam ini, ia memilih untuk tidak takut.

Ia teringat nama yang disebut ibunya. Mbah Lestari. Seseorang yang mengerti. Seseorang yang, suatu hari nanti, akan mengajarinya cara membuka dan menutup pintu di dalam kepalanya. Ario membayangkan sosok itu—perempuan tua yang bijak, yang tidak akan menatapnya seperti ia gila, yang akan berkata, ya, aku percaya kamu, karena aku juga melihatnya.

Ia tidak tahu kapan ia akan bertemu Mbah Lestari. Ia tidak tahu bahwa pertemuan itu, ketika akhirnya tiba, akan membuka pintu menuju rahasia yang jauh lebih besar dan lebih gelap daripada sosok mana pun di sudut kamarnya. Ia tidak tahu tentang lembah yang menunggu di suatu tempat di pegunungan, tentang nama-nama yang hilang tanpa jejak, tentang harga yang harus dibayar oleh mereka yang terlalu jauh menggali.

Ia hanya tahu, malam ini, bahwa ia tidak sendirian.

Dan untuk seorang anak enam tahun yang bisa mendengar suara orang mati, itu sudah cukup. Untuk sekarang.

Di luar jendela, hujan akhirnya reda. Sebuah bintang menyembul dari balik awan yang menipis. Dan Ario, untuk pertama kalinya dalam berhari-hari, tidur dengan nyenyak, menggenggam selimut alih-alih ketakutan, menyongsong masa depan yang belum ia pahami tapi sudah mulai memanggil namanya.


Esok paginya, sebelum berangkat sekolah, Ario menemukan ibunya berdiri di depan jendela dapur, menatap ke arah rumah Mbah Putri yang terlihat samar di ujung gang. Cangkir kopi di tangannya sudah dingin, uapnya lama menghilang. Ibu tidak mendengar langkah anaknya, dan untuk sesaat Ario melihat wajah yang biasanya hangat itu tampak begitu lelah, begitu tua, seakan menanggung beban yang jauh lebih berat dari sekadar mengurus rumah dan dua anak.

“Ma?“ panggil Ario pelan.

Ibu menoleh, cepat-cepat memasang senyum, tapi terlambat. Ario sudah melihat. “Eh, sudah rapi. Ayo sarapan dulu.“

“Mama mikirin apa?“

Ibu terdiam sejenak, lalu menarik Ario duduk di kursi dapur. Ia berlutut hingga matanya sejajar dengan mata anaknya. “Rio, Mama mau kamu inget satu hal lagi. Kalau nanti kamu lihat anak perempuan—anak kecil yang ngepang rambut—jangan takut, dan jangan ikut dia ke mana-mana. Janji?“

Ario membeku. Anak perempuan berkepang. Sosok yang ia lihat di lorong rumah Mbah Putri. Sosok di foto yang membuat ayah begitu takut. “Mama kenal dia?“

Mata ibu berkaca-kaca, tapi ia tidak menjawab pertanyaan itu. “Janji dulu, Rio.“

“Iya, Ma. Aku janji.“

Ibu memeluknya erat, lama, lebih lama dari biasanya. Dan di pelukan itu, Ario merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan dari ibunya: rasa takut. Bukan takut pada hantu di sudut kamar. Takut pada sesuatu yang jauh lebih nyata, sesuatu yang pernah terjadi, dan yang ibunya takutkan akan terjadi lagi.

Ario tidak mengerti. Tapi ia menyimpan janji itu, sama seperti ia menyimpan semua potongan teka-teki lainnya, di tempat yang aman di dalam dirinya, menunggu hari ketika semuanya akan masuk akal.

Hari itu, ia tahu sekarang, masih sangat jauh. Tapi ia sudah mulai berjalan ke arahnya.


1 / 20

Comments (0)

Sign in to leave a comment.

No comments yet. Be the first!