Bagian 1

WEDDING ORGANIZER JOMBLO

by AAR Nugroho10 mnt baca
0 kalimat

Wina menghabiskan kariernya menyukseskan hari paling bahagia dalam hidup orang lain, dan menghabiskan malam-malamnya meyakinkan diri bahwa ia tak butuh hari bahagia versinya sendiri.

Ia pemengatur pernikahan terbaik di kotanya, profesional, teliti, yang bisa mengubah kekacauan jadi pernikahan impian. Tetapi di balik kesuksesan itu, Wina adalah seorang yang sinis soal cinta. Tiga tahun lalu, ia patah hati hebat, ditinggal tunangannya beberapa bulan sebelum pernikahan mereka sendiri. Sejak itu, ia menutup hatinya, mengubur perasaannya dalam pekerjaan, dan meyakinkan diri bahwa cinta adalah dongeng yang ia jual ke klien tetapi tak ia percayai sendiri.

“Cinta itu produk, ” katanya sering pada Damar, rekan kerjanya. “Aku jual ke klien. Dekorasi romantis, sumpah setia, semuanya. Tapi aku tidak beli produk yang aku jual. Aku tahu rahasianya: semua ini cuma pesta mahal sebelum kenyataan datang. ”

Damar, rekan WO-nya, selalu menggeleng. “Suatu hari kamu bakal makan kata-katamu, Win. ”

Wina tak pernah membayangkan “suatu hari” itu datang dalam bentuk klien yang, ketika ia buka map kontraknya, ternyata adalah mantan tunangannya.

• • •

“Klien baru kita, ” kata Damar, menyerahkan map, “pasangan Reno dan Sasha. Pernikahan tiga bulan lagi. Budget besar. Reno bilang dia dapat rekomendasi WO kita dari, ”

“Reno? ” Wina membeku, membuka map. Dan di sana, di foto pasangan klien, ia melihat wajah yang membuat dunianya berputar: Reno. Mantan tunangannya. Lelaki yang meninggalkannya tiga tahun lalu, beberapa bulan sebelum pernikahan mereka. Kini akan menikah, dengan perempuan lain bernama Sasha, dan, dalam lelucon kosmik paling kejam, memilih WO yang dikelola mantan tunangannya.

“Win? Kamu kenal Reno? ” Damar mengernyit, melihat wajah Wina yang pucat.

“Kenal, ” kata Wina, suaranya datar dipaksakan. “Dia… mantan tunanganku. Yang meninggalkan aku tiga tahun lalu. Sebelum nikah kami sendiri. ”

Damar menahan napas. “Astaga. Win, kita bisa nolak klien ini. Aku bisa atur biar tim lain yang handle, atau kita lempar ke WO lain, ”

“Tidak, ” kata Wina, mengejutkan dirinya sendiri. “Aku ambil. Aku WO profesional. Aku bisa urus pernikahan siapa pun, termasuk mantanku. Ini cuma kerjaan. ”

• • •

Itu pernyataan yang berani. Kenyataannya jauh lebih menyiksa.

Mengurus pernikahan mantan tunangan ternyata adalah penyiksaan yang halus dan berkepanjangan. Wina harus bertemu Reno dan Sasha berkali-kali, membahas detail pernikahan mereka, dekorasi, gaun, sumpah setia, pernikahan yang seharusnya, dalam timeline lain, adalah pernikahannya sendiri dengan Reno.

Reno, di pertemuan pertama, tampak canggung. “Wina. Aku… aku tidak tahu WO ini punya kamu. Sasha yang nemu, dari rekomendasi. Kalau ini bikin tidak nyaman, kita bisa, ”

“Tidak apa-apa, Reno, ” potong Wina, profesional. “Aku WO-nya. Aku akan bikin pernikahan kamu sempurna. Itu kerjaan aku. ” Ia tersenyum, senyum bisnis yang ia latih. “Selamat, ya. Buat kamu dan Sasha. ”

Dan ia setengah berarti mengatakannya. Karena Sasha, calon istri Reno, adalah perempuan yang baik, ramah, tulus, jelas mencintai Reno. Yang membuat Wina sesak bukan iri pada Sasha, melainkan pertanyaan lama yang tak pernah terjawab: kenapa Reno meninggalkanku, tapi siap menikahi orang lain?

• • •

Sepanjang persiapan pernikahan itu, luka lama Wina terus terkorek. Setiap pemilihan dekorasi mengingatkannya pada rencana pernikahannya sendiri yang batal. Setiap fitting gaun Sasha mengingatkannya pada gaunnya sendiri yang tak pernah ia pakai. Setiap diskusi sumpah setia mengingatkannya pada janji yang dulu Reno ucapkan padanya, lalu ia ingkari.

Damar memperhatikan. Rekan kerjanya yang selama ini hanya partner profesional, kini menjadi penopang emosional Wina. Ia menggantikan Wina di pertemuan-pertemuan yang terlalu menyakitkan. Ia membawakan kopi saat Wina lembur menahan air mata. Ia mendengarkan keluhan Wina, menghiburnya dengan humor yang pas, ada untuknya dengan cara yang Wina baru sadari telah berlangsung lama.

“Kamu tidak harus paksa diri, Win, ” kata Damar suatu malam. “Urus pernikahan mantan itu… itu nyiksa. Biar aku yang handle bagian yang berat. Kamu tidak perlu buktikan apa-apa. ”

“Aku harus, Mar, ” kata Wina. “Aku harus buktikan ke diri sendiri aku sudah lanjut hidup. Kalau aku tidak bisa urus pernikahan Reno tanpa hancur, berarti aku belum lepas dari dia. Dan aku capek belum lepas. ”

Damar menatapnya lama. “Atau, ” katanya pelan, “mungkin yang kamu butuh bukan buktikan kamu sudah lepas. Tapi ngerti kenapa kamu belum. ”

• • •

Kata-kata Damar mengusik Wina. Dan menjelang hari pernikahan, dalam sebuah momen jujur dengan dirinya sendiri, ia akhirnya menggali luka itu.

Kenapa ia belum lepas dari Reno setelah tiga tahun? Bukan karena ia masih mencintai Reno, Wina menyadari, ketika ia jujur, bahwa ia tak lagi merasakan cinta pada lelaki itu. Yang ia rasakan hanya luka. Luka ditinggalkan. Luka merasa tak cukup. Reno meninggalkannya tanpa penjelasan yang memuaskan, dan luka itu, bukan cintanya, yang menahannya.

Ia memutuskan untuk bertanya. Beberapa hari sebelum pernikahan, ia menemui Reno secara pribadi, dengan dalih membahas detail terakhir.

“Reno, ” kata Wina. “Boleh aku tanya satu hal? Yang sudah tiga tahun ganjel di hati aku? ” Ia menarik napas. “Kenapa kamu meninggalkan aku dulu? Beberapa bulan sebelum nikah kita? Apa yang salah sama aku? ”

Reno terdiam, lalu menghela napas. “Tidak ada yang salah sama kamu, Win. Itu masalahnya. Kamu sempurna. Terlalu sempurna. ” Ia menunduk. “Aku yang tidak siap. Aku takut komitmen, takut tidak bisa jadi suami yang kamu pantes dapetin. Jadi aku lari. Bukan karena kamu kurang. Tapi karena aku pengecut waktu itu. ” Ia menatap Wina. “Aku nyesel cara aku meninggalkan kamu. Kamu pantes dapat penjelasan, bukan ditinggal gitu saja. Maaf, Win. Tiga tahun terlambat, tapi maaf. ”

• • •

Wina menatap Reno, dan tiga tahun pertanyaan yang tak terjawab akhirnya runtuh jadi jawaban yang melegaan.

“Jadi bukan karena aku kurang, ” kata Wina pelan. “Tapi karena kamu takut. ”

“Bukan karena kamu kurang sama sekali, ” kata Reno. “Justru kamu terlalu hebat, dan aku merasa tidak pantes. Itu masalah aku, bukan kamu. ” Ia tersenyum getir. “Dan sekarang, sama Sasha, aku akhirnya siap. Bukan karena Sasha lebih baik dari kamu. Tapi karena aku sudah lebih dewasa, lebih siap berkomitmen. Kamu datang di waktu yang salah dalam hidupku, Win. Itu saja. Bukan salah kamu. ”

Dan Wina merasakan sesuatu yang tak ia duga: kelegaan. Selama tiga tahun, ia menyimpan luka itu sebagai bukti ia tak cukup. Sekarang ia tahu, ia selalu cukup. Reno yang belum siap. Itu bukan tentang kekurangannya sama sekali.

“Makasih, Reno, ” kata Wina, dan ia terkejut betapa tulus ia mengatakannya. “Buat jujur. Tiga tahun aku berpikir ada yang salah sama aku. Sekarang aku tahu, tidak ada. Dan itu… itu ngelegain banget. ” Ia tersenyum, kali ini tulus. “Aku akan bikin pernikahan kamu sama Sasha sempurna. Beneran. Karena kalian pantes bahagia. Dan aku, aku akhirnya bisa lepas. ”

• • •

Pernikahan Reno dan Sasha berlangsung sempurna, Wina memastikannya, dengan profesionalisme dan, kali ini, dengan hati yang ikhlas. Ia menyaksikan mantan tunangannya menikahi perempuan lain, dan alih-alih hancur, ia merasa damai. Karena ia akhirnya tahu: Reno bukan jodohnya, tak pernah, dan itu bukan karena ia kurang.

Di tengah resepsi, ketika semuanya berjalan lancar, Wina berdiri di sudut, mengawasi pernikahan yang ia sukseskan. Dan Damar menghampirinya, menyerahkan segelas air.

“Kamu hebat, Win, ” kata Damar. “Urus pernikahan mantan, dan bikin sempurna. Itu butuh kekuatan yang tidak semua orang punya. ”

“Aku akhirnya lepas, Mar, ” kata Wina. “Tiga tahun aku terjebak luka. Sekarang aku ngerti, masalahnya bukan aku kurang. Reno yang belum siap. Dan sekarang aku bebas. ”

Damar tersenyum. “Aku seneng dengernya, Win. Kamu pantes bebas. Kamu pantes bahagia. ”

Dan Wina, menatap Damar, rekan yang selama persiapan pernikahan ini selalu ada untuknya, yang menopang, menghibur, mendengarkan, menyadari sesuatu yang selama ini luput.

• • •

Bahwa selama bertahun-tahun, sementara ia menutup hatinya dari cinta, ada seseorang yang dengan sabar ada di sisinya. Damar. Rekan kerja yang selalu menggantikannya di pertemuan yang berat, yang membawakan kopi saat ia lembur, yang mendengarkan keluhannya tanpa lelah, yang membuatnya tertawa di hari-hari tergelap. Cinta yang tak ia sadari karena ia terlalu sibuk menjaga luka lama.

Tetapi malam itu bukan waktunya. Wina cukup dewasa untuk tahu bahwa kesadaran perlu diendapkan, bahwa ia baru saja melepas luka tiga tahun dan butuh waktu sebelum membuka hati lagi. Maka ia menyimpan kesadaran itu, dan menikmati momen, kelegaan telah lepas dari Reno, dan kehangatan menemukan bahwa cinta, ternyata, mungkin selalu ada di sebelahnya selama ini.

• • •

Beberapa bulan setelah pernikahan Reno dan Sasha, Wina dan Damar melanjutkan pekerjaan mereka, menyukseskan pernikahan orang lain. Tetapi sesuatu telah berubah antara mereka. Wina, yang kini hatinya terbuka, mulai melihat Damar dengan mata berbeda. Dan Damar, yang ternyata sudah lama memendam perasaan, mulai berani menunjukkannya.

“Win, ” kata Damar suatu hari, setelah mereka menyukseskan sebuah pernikahan besar. “Boleh jujur? Aku sudah lama suka kamu. Sejak lama. Tapi kamu selalu nutup hati, jadi aku diem saja, jadi rekan yang ada buat kamu. ” Ia menggaruk tengkuk, gugup. “Tapi sekarang kamu sudah lepas dari masa lalu kamu. Dan aku… aku tidak mau cuma jadi rekan terus. Aku mau lebih, kalau kamu mau. ”

Wina tersenyum. “Kamu tahu tidak, Mar, kamu nyatain perasaan setelah kita sukseskan ratusan pernikahan orang lain. Romantis banget, WO yang jatuh cinta sama rekan WO-nya. ”

“Kita ahli bikin pernikahan orang bahagia, ” kata Damar. “Mungkin saatnya kita bikin kebahagiaan kita sendiri. ”

• • •

Wina dan Damar akhirnya bersama, dua pemengatur pernikahan yang menyukseskan kebahagiaan orang lain, akhirnya menemukan kebahagiaan mereka sendiri. Dan cinta mereka, yang tumbuh dari kemitraan profesional dan dukungan bertahun-tahun, ternyata jauh lebih kokoh daripada romansa yang menggebu, karena dibangun di atas pertemanan, rasa hormat, dan kehadiran yang konsisten.

“Kamu dulu bilang cinta itu cuma produk yang kamu jual tapi tidak kamu beli, ” goda Damar suatu hari. “Sekarang bagaimana? ”

Wina tertawa. “Aku makan kata-kataku, kayak yang kamu bilang dulu. Ternyata cinta itu nyata. Aku cuma butuh lepas dari luka lama buat lihat bahwa cinta sejati sudah ada di sebelahku selama ini, kamu. ”

• • •

Ketika Wina dan Damar akhirnya menikah, mereka, tentu saja, merencanakan pernikahan mereka sendiri. Dua WO terbaik di kota, merancang hari bahagia mereka sendiri setelah bertahun-tahun merancang hari bahagia orang lain. Dan pernikahan mereka, kata semua yang hadir, adalah yang paling tulus, paling hangat, paling penuh cinta, karena kali ini, mereka tidak menjual produk. Mereka merayakan sesuatu yang nyata.

Reno dan Sasha hadir di pernikahan itu, sebagai tamu. Dan Reno, dengan senyum tulus, berkata pada Wina: “Aku seneng banget kamu nemu kebahagiaan kamu, Win. Maaf aku dulu nyakitin kamu. Tapi lihat, kalau aku tidak meninggalkan kamu, kamu tidak akan ketemu Damar. Jadi mungkin semuanya terjadi sesuai jalannya. ”

“Mungkin, ” kata Wina, tersenyum. “Makasih, Reno. Buat semuanya. Termasuk patah hati yang dulu, yang akhirnya nganterin aku ke sini. ”

• • •

Bertahun-tahun kemudian, ketika Wina dan Damar, kini pasangan suami istri sekaligus mitra WO, menceritakan kisah mereka pada klien yang patah hati atau ragu soal cinta, Wina selalu menutupnya dengan pelajaran yang ia pelajari dengan cara yang menyakitkan.

“Aku dulu sinis soal cinta, ” katanya. “Aku patah hati, aku nutup hati, aku yakin cinta cuma dongeng. Aku bahkan harus mengurus pernikahan mantan yang meninggalkan aku, penyiksaan, kupikir. Tapi ternyata, itu yang nyembuhin aku. Karena dengan ngadepin masa laluku langsung, aku akhirnya ngerti: luka aku bukan soal aku kurang. Dan begitu aku lepas dari luka itu, aku bisa lihat cinta sejati yang sudah ada di sebelahku selama ini. ”

“Pelajarannya, ” tambah Damar, “kadang kita terlalu sibuk jaga luka lama sampai kita buta sama cinta yang ada di depan mata. Wina butuh mengurus pernikahan mantannya buat akhirnya lepas, dan buat akhirnya lihat aku. ” Ia menggenggam tangan istrinya. “Jadi kalau kamu lagi patah hati, jangan buru-buru nutup hati selamanya. Karena kadang, orang yang ditakdirkan buat kamu sudah ada di sana, sabar nungguin kamu sembuh, sabar jadi rekan, sabar ada buat kamu, sampai kamu akhirnya siap ngeliat mereka. ”

Dan Wina, sang pemengatur pernikahan yang dulu jomblo dan sinis, kini menjadi bukti hidup dari produk yang ia jual: bahwa cinta itu nyata, bahwa kebahagiaan itu mungkin, dan bahwa kadang, jalan paling berliku, termasuk mengurus pernikahan mantan yang mematahkan hati kita, adalah jalan yang membawa kita pada cinta sejati yang, ternyata, telah menunggu dengan sabar di sebelah kita selama ini.

Comments (0)

Sign in to leave a comment.

No comments yet. Be the first!