Bagian 1

POHON BESAR DI BELAKANG SEKOLAH

by AAR Nugroho5 mnt baca
0 kalimat

Setiap sekolah punya legendanya sendiri. Sekolahku punya pohon beringin tua di belakang lapangan, yang akarnya menjuntai seperti rambut dan batangnya cukup besar untuk menelan dua orang dewasa. Aturannya sederhana, diwariskan turun-temurun antar angkatan: jangan main di sana setelah lonceng pulang. Jangan memanjatnya. Dan kalau bolamu jatuh ke baliknya saat senja, biarkan. Jangan diambil.

Aku dan tiga temanku, Rio, Bayu, dan Tomi, menertawakan aturan itu. Kami anak kelas tiga SMP, terlalu tua untuk takhayul, terlalu muda untuk bijak.

Suatu sore, sehabis latihan futsal, bola kami menggelinding ke balik pohon beringin. Tepat saat senja.

“Biarin aja, ” kata Tomi, satu-satunya yang ragu.

“Ah, takhayul, ” kata Rio, dan ia berlari mengambilnya.

• • •

Rio menghilang di balik batang besar itu. Kami menunggu. Sepuluh detik. Tiga puluh. Satu menit.

“Rio? ” panggil Bayu.

Tak ada jawaban. Kami mengitari pohon. Bola kami ada di sana, tergeletak di antara akar. Tapi Rio tak ada. Pohon itu cukup besar, tapi tak cukup untuk menyembunyikan seseorang sepenuhnya.

“Rio! Jangan bercanda! ” teriakku.

Lalu kami mendengarnya, suara Rio, memanggil, tapi teredam, jauh, seperti datang dari dalam batang pohon itu sendiri. “Guys… aku di sini… gelap… tolong…”

Bayu, panik, menempelkan telinga ke batang. Wajahnya memucat. “Suaranya… dari dalam pohon. ”

• • •

Kami berlari ke ruang penjaga sekolah. Pak Kasim, penjaga tua yang sudah puluhan tahun di sana, langsung berdiri saat kami menyebut pohon beringin.

“Anak kalian masuk ke balik pohon saat senja? ” Wajahnya keras. “Ambil bola? ”

Kami mengangguk, ketakutan.

Pak Kasim menyambar senter dan segenggam garam, lalu setengah berlari ke belakang sekolah. Kami mengikuti.

“Pohon itu, ” katanya sambil berjalan cepat, “sudah ada sebelum sekolah ini dibangun. Dulu tempat ini kuburan tua. Pohonnya tumbuh dari salah satu makam. Penunggunya suka anak-anak, suka mengajak mereka 'bermain' di dalam. Yang ditelan pohon itu, kalau tidak cepat ditarik keluar sebelum gelap total, tidak akan pernah kembali. ”

• • •

Kami sampai di pohon saat langit hampir kelam. Suara Rio masih terdengar, makin lemah, makin jauh, seolah ia ditarik makin dalam.

Pak Kasim menaburkan garam mengelilingi pohon sambil komat-kamit membaca doa. Lalu ia berteriak ke arah batang, “Lepaskan anak itu! Dia bukan bagian dari tempatmu! Dia tersesat, bukan diberikan! ”

Batang pohon itu, aku bersumpah aku melihatnya, bergetar. Akar-akar yang menjuntai bergerak seperti disibak angin, padahal udara diam. Suara Rio melengking, lalu, dengan suara seperti tanah longsor, sebuah celah di batang pohon terbuka.

Pak Kasim menjulurkan tangannya ke dalam celah gelap itu. “Rio! Raih tanganku! JANGAN lihat ke belakang, apa pun yang kau dengar! ”

• • •

Sebuah tangan keluar dari kegelapan celah, tangan Rio, pucat, dingin, gemetar. Pak Kasim menariknya sekuat tenaga. Kami bertiga ikut menarik, berantai, kaki kami menapak garam yang ditaburkan.

Pohon itu seakan melawan. Akar-akar membelit kaki Rio, menariknya kembali ke dalam. Suara-suara dari dalam batang, bukan cuma satu, melainkan banyak, suara anak-anak, merengek, “Jangan pergi… main lagi… temani kami…”

“TARIK! ” teriak Pak Kasim.

Dengan satu sentakan terakhir, Rio terlepas, terlempar keluar bersama kami, jatuh menimpa tanah. Celah di batang pohon menutup dengan suara berdebam, dan akar-akar kembali diam, menjuntai polos seperti tak terjadi apa-apa.

• • •

Rio selamat. Tapi ia tak pernah sepenuhnya sama lagi.

Ia tak ingat apa yang terjadi di dalam, hanya gelap, dingin, dan “anak-anak lain yang mengajak bermain”. Ia jadi pendiam, takut pada ruang sempit, dan tak pernah lagi mau mendekati pohon mana pun yang besar.

Pak Kasim mengumpulkan kami keesokan harinya, wajahnya serius.

“Kalian beruntung, ” katanya. “Kalau aku terlambat semenit saja, Rio sudah jadi salah satu suara di dalam batang itu. ” Ia menatap kami satu per satu. “Suara-suara yang kalian dengar tadi, mereka anak-anak yang ditelan pohon itu, puluhan tahun lalu, sebelum aku tahu cara menariknya keluar. Mereka masih di sana. Selamanya bermain. Selamanya kesepian. Selamanya mengundang teman baru. ”

• • •

Sekolah akhirnya memagari pohon itu, dengan alasan resmi “akar membahayakan fondasi”. Tapi kami tahu alasan sebenarnya. Pak Kasim yang mengusulkannya, setelah kejadian Rio.

Bertahun-tahun kemudian, aku lulus, dewasa, hampir melupakan kejadian itu seperti melupakan mimpi buruk masa kecil. Sampai suatu hari aku lewat depan sekolah lama, dan melihat pohon beringin itu masih berdiri di belakang, di balik pagar, lebih besar dari yang kuingat.

Dan di senja itu, dari balik pagar, aku mendengarnya lagi, samar, dibawa angin, suara anak-anak tertawa dan bermain. Padahal sekolah sudah lama bubar, lapangan sudah kosong, dan tak ada satu pun anak di sana.

• • •

Aku tak berhenti. Aku tak menoleh. Aku belajar, dari satu sore di masa SMP, bahwa beberapa undangan untuk “bermain” sebaiknya tidak pernah dijawab.

Tapi aku berdoa untuk anak-anak yang masih bersekolah di tempat lain, di dekat pohon-pohon besar lain, dengan legenda-legenda yang mereka tertawakan persis seperti dulu kami menertawakannya.

Karena pohon beringin tua selalu sabar. Ia sudah berdiri puluhan, mungkin ratusan tahun. Ia bisa menunggu satu generasi lagi, dua generasi lagi, menunggu satu anak yang cukup berani, cukup sombong, cukup penasaran untuk mengambil bola yang jatuh ke baliknya saat senja.

Dan kalau anak itu mendengar namanya dipanggil dari dalam batang, dengan suara teman yang baru saja menghilang, kuharap ada Pak Kasim lain di dekatnya, dengan senter, segenggam garam, dan keberanian untuk menarik kembali apa yang hampir ditelan kegelapan.

Comments (0)

Sign in to leave a comment.

No comments yet. Be the first!