Bagian 1

SURAT CINTA YANG SALAH ALAMAT

by AAR Nugroho5 mnt baca
0 kalimat

Surat itu datang di kotak posku, padahal jelas bukan untukku. Amplopnya cokelat, beralamat tangan dengan tulisan rapi, ditujukan untuk “Sekar” di sebuah nomor rumah yang mirip dengan rumahku, hanya beda satu angka. Pengirimnya tak mencantumkan nama, hanya inisial: R.

Aku, yang seharusnya langsung mengantarkannya ke rumah sebelah, malah duduk di teras dan, aku tahu ini salah, membukanya.

Sekar, begitu bunyinya, aku tahu surat ini mungkin terlambat sepuluh tahun. Tapi ada hal yang tak pernah berani kukatakan dulu, dan kini, sebelum aku pindah ke luar negeri, aku ingin kau tahu…

Aku berhenti membaca. Wajahku panas karena malu. Ini surat cinta, jelas, dan aku tak berhak membacanya. Kulipat kembali, kumasukkan ke amplop, dan kuputuskan akan mengantarkannya besok pagi.

• • •

Tapi rumah dengan nomor yang dituju, ternyata, sudah kosong bertahun-tahun. Tetangga bilang keluarga “Sekar” sudah pindah entah ke mana sejak lama.

Maka surat itu terdampar padaku. Surat cinta yang terlambat sepuluh tahun, untuk perempuan yang sudah lama pergi, dari lelaki yang akan segera meninggalkan negeri ini.

Aku menatap amplop itu lama. Inisial R. Tak ada alamat pengirim. Tak ada cara mengembalikan. Surat ini, secara teknis, adalah botol pesan yang terdampar di pantai yang salah.

Lalu aku melihat satu detail yang terlewat: di sudut amplop, dengan tinta lebih pudar, tertulis sebaris kecil: Jika tak sampai, mohon kabari: @rangga. menulis.

Sebuah akun media sosial.

• • •

Aku ragu berhari-hari. Akhirnya, rasa bersalah karena sudah membaca dan rasa penasaran yang tak tertahankan mengalahkan keraguanku. Kukirim pesan ke akun itu.

Halo. Maaf mengganggu. Sebuah surat untuk “Sekar” salah alamat, datang ke rumah saya. Rumah yang dituju sudah lama kosong. Saya tidak tahu harus bagaimana.

Balasan datang malamnya. Astaga. Terima kasih sudah mengabari. Saya Rangga. Surat itu… memang sudah saya duga tak akan sampai. Tapi saya tetap harus mengirimnya. Anda tidak membacanya, kan?

Aku menatap layar, jariku ragu. Lalu kuputuskan untuk jujur. Maaf. Saya membaca sedikit. Saya benar-benar minta maaf.

Lama tak ada balasan. Aku mengira ia marah. Lalu: Tidak apa-apa. Mungkin malah lebih baik ada yang membacanya, daripada tidak sama sekali. Setidaknya kata-kata itu sampai pada seseorang.

• • •

Kami mulai berkirim pesan. Awalnya soal surat itu, aku bercerita bagaimana ia terdampar, ia bercerita tentang Sekar, cinta masa SMA yang tak pernah ia ungkapkan, yang kini hanya jadi penyesalan yang ingin ia tutup sebelum pindah ke Jerman.

“Kenapa baru sekarang? ” tanyaku, suatu malam, percakapan kami sudah berpindah ke telepon.

“Karena pengecut butuh sepuluh tahun untuk berani, ” jawabnya, dan aku bisa mendengar senyum getir dalam suaranya. “Konyol, ya? Mengirim surat cinta pada alamat yang bahkan sudah kosong. ”

“Tidak konyol, ” kataku. “Romantis. Dengan cara yang menyedihkan. ”

Ia tertawa. Tawa yang, anehnya, mulai kunantikan tiap malam.

• • •

Minggu-minggu berlalu. Surat untuk Sekar kini hanya jadi pembuka, percakapan kami sudah jauh melampaui itu. Tentang hidup, mimpi, ketakutan. Rangga akan pindah ke Jerman dalam dua minggu. Dan aku, yang awalnya hanya merasa bersalah karena membaca surat orang, kini merasa berat membayangkan ia pergi.

“Lucu, ya, ” katanya suatu malam. “Aku menulis surat untuk perempuan yang kucintai sepuluh tahun lalu. Tapi malah jadi dekat dengan perempuan yang menerima surat itu nyasar. ”

Jantungku berdebar. “Maksudmu? ”

“Maksudku, ” ia berhenti, hati-hati, “aku mulai berpikir, jangan-jangan surat itu tidak salah alamat. Mungkin ia sampai persis di tempat yang seharusnya. Hanya saja, sepuluh tahun terlambat untuk Sekar, dan tepat waktu untukmu. ”

Aku tak bisa bernapas.

• • •

Kami bertemu langsung untuk pertama kalinya seminggu sebelum kepergiannya. Di sebuah kafe, aku membawa surat itu, surat yang menyatukan kami, dan menyerahkannya kembali padanya.

“Ini milikmu, ” kataku. “Kau harus membawanya. ”

Rangga menatap amplop cokelat itu, lalu menggeleng. “Tidak. Surat ini sudah selesai tugasnya. Ia ditulis untuk perpisahan, tapi malah jadi awal. ” Ia mendorong amplop itu kembali padaku. “Simpan. Sebagai bukti bahwa kadang hal yang salah alamat justru menemukan rumah yang benar. ”

“Tapi kau akan pergi ke Jerman. ”

“Dua tahun. Kontrak kerja. ” Ia meraih tanganku di atas meja. “Aku menghabiskan sepuluh tahun menyesali sesuatu yang tak pernah kukatakan. Aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama. ” Ia menatapku. “Jadi aku katakan sekarang: aku tidak mau ini berakhir hanya karena jarak. Maukah kau menunggu? Atau setidaknya, mau kita coba? ”

• • •

Dua tahun. Jarak ribuan kilometer. Zona waktu yang berbeda. Secara logika, hubungan jarak jauh dengan seseorang yang baru kukenal beberapa minggu adalah ide buruk.

Tapi aku memikirkan surat itu. Bagaimana ia menempuh perjalanan yang salah hanya untuk sampai pada orang yang tepat. Bagaimana sepuluh tahun penyesalan Rangga berubah jadi keberanian justru karena sebuah kesalahan kecil, satu angka alamat yang keliru.

“Boleh, ” kataku. “Kita coba. ”

Surat cinta itu kini kusimpan dalam laci, bukan untuk Sekar yang tak pernah membacanya, melainkan sebagai pengingat: bahwa terkadang, hal-hal yang tampak salah, surat yang nyasar, alamat yang keliru, pertemuan yang tak direncanakan, adalah cara semesta mengantarkan kita pulang ke tempat yang, ternyata, memang selalu jadi milik kita.

Comments (0)

Sign in to leave a comment.

No comments yet. Be the first!