Bagian 1

SURAT UNTUK PAK POS

by AAR Nugroho11 mnt baca
0 kalimat

Pak Darmaji sudah pensiun sepuluh tahun ketika sebuah surat tua sampai ke tangannya, bukan untuk diantar, melainkan dikembalikan, karena surat itu sudah tiga puluh tahun nyangkut di sistem dan tak pernah terkirim.

Pak Darmaji adalah tukang pos selama empat puluh tahun, dan ia punya satu prinsip yang ia pegang seumur hidupnya: surat harus sampai. Apa pun yang terjadi, hujan, banjir, alamat yang sulit ditemukan, surat harus sampai ke tujuannya. Karena di balik setiap surat, Pak Darmaji tahu, ada manusia yang menunggu: kabar, cinta, pesan penting, sepotong hidup yang dititipkan dalam amplop.

Maka ketika ia pensiun, ada satu hal yang masih mengganjal hatinya, surat-surat yang, selama kariernya, tak berhasil ia antar. Yang alamatnya tak ditemukan, yang penerimanya pindah, yang nyangkut entah di mana. Pak Darmaji selalu merasa bersalah pada surat-surat itu, pesan yang tak pernah sampai, manusia yang menunggu sia-sia.

Dan kini, sepuluh tahun setelah pensiun, kantor pos lama tempatnya bekerja menemukan sebuah surat yang nyangkut di balik mesin sortir tua, surat yang sudah ada di sana selama tiga puluh tahun, terselip, terlupakan, tak pernah terkirim. Mengetahui obsesi Pak Darmaji pada “surat harus sampai”, mantan rekannya membawa surat itu padanya.

• • •

“Surat ini nyangkut tiga puluh tahun, Pak Darmaji, ” kata mantan rekannya. “Di balik mesin sortir lama yang baru kami bongkar. Prangkonya sudah pudar, alamatnya masih kebaca samar. Saya pikir… Bapak mungkin mau tahu. Atau mungkin mau coba antar, sesuai prinsip Bapak. ”

Pak Darmaji menerima surat tua itu dengan tangan gemetar. Amplop yang menguning, prangko model lama, tulisan tangan yang pudar tetapi masih terbaca. Surat yang ditulis tiga puluh tahun lalu, yang seharusnya diantar tiga puluh tahun lalu, tetapi nyangkut dan terlupakan, pesan yang tak pernah sampai selama tiga dekade.

Ia memeriksa alamatnya. Pengirim: seorang bernama Hartono, dari sebuah desa. Penerima: seorang bernama Sumiati, di kota lain. Surat cinta, mungkin, atau kabar penting, Pak Darmaji tak tahu isinya, dan ia tak akan membukanya. Tetapi ia tahu satu hal: surat ini belum sampai. Dan prinsip seumur hidupnya berkata, surat harus sampai.

“Saya akan antar, ” kata Pak Darmaji, tegas meski usianya sudah senja. “Telat tiga puluh tahun. Tapi surat ini harus sampai. Itu janji saya, sebagai tukang pos. Surat harus sampai ke tujuannya, berapa pun lamanya. ”

• • •

Mantan rekannya terheran. “Pak, ini sudah tiga puluh tahun. Penerimanya mungkin sudah pindah, atau… atau sudah tidak ada. Pengirimnya juga. Buat apa repot-repot ngantar surat yang sudah basi? ”

“Surat tidak pernah basi, Nak, ” kata Pak Darmaji. “Selama belum sampai ke tujuannya, dia masih punya tugas. Mungkin isinya sudah tidak relevan. Mungkin penerimanya sudah tua, atau tiada. Tapi saya tidak bisa biarin surat ini terselip selamanya, tidak pernah sampai. Itu pengkhianatan terhadap pengirimnya, yang nitipin pesannya ke pos, percaya itu bakal sampai. ” Ia menggenggam surat tua itu. “Saya tukang pos. Empat puluh tahun saya antar surat. Biar surat terakhir ini, yang telat tiga puluh tahun, jadi penutup karier saya. Saya antar, apa pun yang terjadi. ”

Dan begitulah, di usia tuanya, Pak Darmaji memulai misi terakhirnya sebagai tukang pos: mengantar sebuah surat yang telat tiga puluh tahun, ke penerima yang mungkin sudah pindah, tua, atau tiada.

• • •

Mengantar surat tiga puluh tahun adalah perjalanan yang sulit. Alamat di amplop sudah lama berubah, kota berkembang, jalan berganti nama, rumah dibongkar dan dibangun ulang. Pak Darmaji menelusuri jejak Sumiati, sang penerima, dengan kegigihan seorang yang tak pernah menyerah pada sebuah surat.

Ia mendatangi alamat lama, yang kini sudah jadi bangunan berbeda. Ia bertanya pada warga tua di sekitar, mencari siapa pun yang ingat keluarga Sumiati. Pelan-pelan, lewat petunjuk demi petunjuk, ia melacak, Sumiati pindah ke sini, lalu ke sana, lalu ke kota lain.

Dan akhirnya, setelah berminggu-minggu penelusuran, Pak Darmaji menemukannya. Sumiati, kini seorang perempuan tua, di penghujung tujuh puluhan, yang tinggal di sebuah rumah sederhana di pinggir kota. Penerima surat yang telat tiga puluh tahun, masih hidup, masih ada.

• • •

Pak Darmaji datang ke rumah Sumiati, surat tua di tangan, jantungnya berdebar oleh sesuatu yang aneh, semacam haru, semacam kelegaan, akan menyelesaikan tugas yang tertunda tiga dekade.

“Selamat sore, Bu, ” kata Pak Darmaji ketika Sumiati membuka pintu. “Maaf mengganggu. Saya… saya tukang pos. Pensiunan, sebenarnya. Tapi saya datang membawa surat untuk Ibu. ” Ia menyodorkan amplop tua itu. “Surat ini… surat ini ditulis tiga puluh tahun lalu. Untuk Ibu. Dari seseorang bernama Hartono. Tapi surat ini nyangkut di sistem, tidak pernah terkirim. Baru ditemukan sekarang. Dan saya… saya merasa wajib mengantarnya. Telat tiga puluh tahun, tapi saya mohon maaf, dan saya antar sekarang. ”

Sumiati menatap amplop tua itu, dan wajahnya, yang tadinya ramah menyambut tamu, perlahan berubah. Pucat. Lalu basah oleh air mata yang tiba-tiba. Tangannya gemetar menerima surat itu.

“Hartono, ” bisiknya, menatap nama pengirim di amplop. “Surat dari Hartono. Setelah tiga puluh tahun. ” Ia menutup mulutnya, terisak. “Ya Allah. Surat ini… surat ini ada. ”

• • •

Pak Darmaji, melihat reaksi Sumiati, tahu surat ini lebih dari sekadar surat biasa. “Ibu… Ibu kenal Hartono? ”

“Kenal, ” kata Sumiati, suaranya hancur. “Hartono… dia cinta pertama saya. Tiga puluh tahun lalu. ” Ia mengusap air matanya. “Kami saling cinta. Tapi kami terpisah, keluarga saya pindah kota, mendadak, karena pekerjaan ayah saya. Saya pindah sebelum sempat pamit baik-baik ke Hartono. Kami janji akan saling berkirim surat, tetap berhubungan. ”

Ia menggenggam surat tua itu erat. “Saya nunggu surat dari Hartono. Berbulan-bulan. Tapi tidak pernah datang. Saya kirim surat ke dia, tapi dia juga tidak bales. Saya pikir… saya pikir Hartono sudah lupa saya. Udah lanjut hidup. Udah tidak peduli. ” Suaranya pecah. “Jadi saya juga coba lanjut hidup. Saya nikah sama orang lain, beberapa tahun kemudian. Hidup saya jalan. Tapi saya tidak pernah benar-benar lupa Hartono, cinta pertama yang saya kira meninggalkan saya. ”

• • •

Pak Darmaji merasa dadanya berat. Surat yang ia antar, yang telat tiga puluh tahun, ternyata adalah surat cinta yang tak pernah sampai, yang mengubah jalan hidup dua orang.

“Jadi surat ini, ” kata Pak Darmaji pelan, “surat yang Ibu tunggu tiga puluh tahun lalu. Yang tidak pernah datang. Karena nyangkut di sistem. ”

“Iya, ” isak Sumiati. “Saya nunggu surat ini. Surat yang membuktikan Hartono masih peduli, masih cinta saya. Tapi tidak pernah datang, jadi saya pikir dia meninggalkan saya. Dan sekarang… sekarang surat itu sampai. Tiga puluh tahun terlambat. ” Ia menatap amplop itu, takut sekaligus rindu. “Saya… saya takut bukanya, Pak. Setelah tiga puluh tahun. Setelah saya nikah sama orang lain, punya keluarga, hidup jalan. Saya takut tahu apa isinya. ”

“Bukalah, Bu, ” kata Pak Darmaji lembut. “Surat ini sudah nunggu tiga puluh tahun buat dibaca. Pengirimnya, Hartono, dia nitipin pesannya ke pos, percaya itu bakal sampai. Dan sekarang akhirnya sampai. Ibu pantes tahu isinya. ”

• • •

Sumiati, dengan tangan gemetar, membuka amplop tua itu, dan membaca surat yang ditulis Hartono tiga puluh tahun lalu, surat yang tak pernah ia terima, yang mengubah hidupnya.

Air matanya mengalir deras saat ia membaca. Dan ketika selesai, ia menatap Pak Darmaji, suaranya hancur. “Hartono… dia tidak meninggalkan saya, Pak. Surat ini… ini surat cinta. Dia bilang dia cinta saya, dia tidak akan pernah lupa saya. Dia bilang dia lagi nabung, mau nyusul saya ke kota tempat saya pindah, mau melamar saya. ” Ia menangis. “Dia tidak pernah meninggalkan saya. Dia justru mau nyusul, mau nikahin saya. Tapi suratnya tidak pernah sampai. Jadi saya ngira dia meninggalkan saya, dan saya nikah sama orang lain. ”

Pak Darmaji menahan napas, memahami beratnya kenyataan ini. Surat yang nyangkut tiga puluh tahun, kelalaian sistem, sebuah amplop yang terselip, telah mengubah jalan hidup dua orang yang saling mencintai. Sumiati mengira ditinggalkan, padahal Hartono justru hendak menyusulnya. Mereka terpisah bukan karena cinta yang pudar, melainkan karena surat yang tak sampai.

• • •

“Apa Hartono masih ada, Bu? ” tanya Pak Darmaji pelan.

Sumiati menggeleng, air matanya mengalir. “Saya tidak tahu, Pak. Tiga puluh tahun saya tidak ada kabar. Setelah saya pikir dia meninggalkan saya, saya putus kontak. Pindah-pindah. Nikah. Hidup jalan. ” Ia menggenggam surat itu. “Tapi sekarang saya tahu kebenarannya. Dia tidak pernah meninggalkan saya. Dan itu… itu mengubah segalanya, dan tidak mengubah apa-apa sekaligus. Karena tiga puluh tahun sudah lewat. Saya sudah jadi janda sekarang, suami saya meninggal lima tahun lalu. Dan Hartono… entah di mana. ”

Pak Darmaji, yang telah menyelesaikan tugasnya mengantar surat, merasa terdorong untuk melakukan satu hal lagi. “Bu, kalau Ibu mau, saya bisa bantu cari Hartono. Saya sudah berhasil nemuin Ibu setelah tiga puluh tahun. Mungkin saya bisa nemuin Hartono juga. Biar… biar Ibu tahu kabarnya. Biar ada penutupan. ”

• • •

Pak Darmaji, dengan kegigihan yang sama, melacak Hartono, pengirim surat yang telat tiga puluh tahun. Dan setelah penelusuran panjang, ia menemukannya: Hartono, kini lelaki tua, juga seorang duda, yang tinggal tak terlalu jauh.

Dan ketika Pak Darmaji menceritakan tentang surat yang akhirnya sampai pada Sumiati setelah tiga puluh tahun, Hartono menangis. “Surat itu sampai? Setelah tiga puluh tahun? ” Ia tak percaya. “Saya kirim surat itu, lalu nunggu balasan Sumiati. Tapi tidak pernah datang. Saya pikir dia tidak mau lagi sama saya, milih hidup barunya di kota. Jadi saya nyerah, nyusul dia jadi tidak ada artinya. Saya nikah sama orang lain, bertahun-tahun kemudian. ” Ia menggeleng. “Padahal surat saya tidak pernah sampai. Sumiati tidak pernah baca. Dia ngira saya yang meninggalkan dia, saya ngira dia yang meninggalkan saya. Padahal kami cuma… korban surat yang nyangkut. ”

• • •

Pak Darmaji mempertemukan Hartono dan Sumiati, dua cinta pertama yang terpisah tiga puluh tahun karena surat yang tak sampai, kini bertemu kembali sebagai dua orang tua, keduanya duda dan janda, keduanya masih menyimpan kenangan satu sama lain.

Pertemuan itu penuh air mata, air mata haru, kesedihan atas tahun-tahun yang hilang, dan kelegaan akhirnya mengetahui kebenaran. Mereka tak pernah saling meninggalkan. Mereka korban kesalahan sistem, surat yang nyangkut, kesalahpahaman yang berlangsung tiga dekade.

“Maafin aku, Sumiati, ” kata Hartono, suaranya bergetar. “Aku pikir kamu yang meninggalkan aku. Aku nyerah. ”

“Aku juga, Hartono, ” kata Sumiati. “Aku pikir kamu yang lupa aku. Padahal kita berdua cuma… tidak pernah dapat suratnya. ”

Dan meski tahun-tahun yang hilang tak bisa kembali, ada penutupan dalam pertemuan itu, kebenaran yang akhirnya terungkap, kesalahpahaman yang akhirnya luruh, dan dua hati tua yang akhirnya tahu bahwa cinta pertama mereka tak pernah berkhianat.

• • •

Hartono dan Sumiati, dua orang tua yang kini sama-sama sendiri, memutuskan untuk menghabiskan sisa hidup mereka bersama, bukan untuk mengejar tahun-tahun yang hilang, melainkan untuk menikmati waktu yang tersisa, ditemani cinta pertama yang akhirnya mereka temukan kembali. Pernikahan sederhana di usia senja, menyatukan dua hati yang terpisah tiga puluh tahun oleh sebuah surat yang tak sampai.

Dan Pak Darmaji, tukang pos pensiunan yang mengantar surat itu, menjadi tamu kehormatan di pernikahan mereka. Karena dialah yang, dengan prinsip “surat harus sampai”, akhirnya menyampaikan pesan yang tertunda tiga dekade, dan menyatukan kembali dua cinta yang terpisah.

“Terima kasih, Pak Darmaji, ” kata Sumiati di pernikahan itu. “Bapak tidak cuma ngantar surat. Bapak nyatuin kami lagi. Setelah tiga puluh tahun. ”

“Saya cuma ngelakuin tugas saya, Bu, ” kata Pak Darmaji, tersenyum. “Surat harus sampai. Telat tiga puluh tahun, tapi akhirnya sampai. Dan saya senang… saya senang surat terakhir karier saya nyatuin dua hati. ”

• • •

Pak Darmaji menghabiskan sisa hidupnya dengan kepuasan seorang yang telah menyelesaikan tugas terakhirnya, mengantar surat yang telat tiga puluh tahun, dan menyatukan kembali cinta yang terpisah. Surat-surat lain yang dulu gagal ia antar mungkin tak akan pernah sampai. Tetapi satu surat ini, surat terakhir, sampai, dan membawa kebahagiaan yang tak terduga.

Dan ia tak pernah berhenti percaya pada prinsipnya: surat harus sampai. Karena di balik setiap surat, ada manusia yang menunggu, ada pesan yang berarti, ada, kadang, cinta yang menanti untuk disampaikan. Dan tukang pos, betapapun sederhana profesinya, adalah penjaga pesan-pesan itu, penyambung hati yang terpisah jarak dan waktu.

• • •

Bertahun-tahun kemudian, kisah “surat yang telat tiga puluh tahun” menjadi legenda kecil, tentang seorang tukang pos pensiunan yang menolak membiarkan sebuah surat tak sampai, dan yang dengan kegigihannya menyatukan kembali dua cinta yang terpisah selama tiga dekade.

Dan setiap kali ada yang bertanya pada Pak Darmaji kenapa ia begitu peduli pada sepucuk surat tua, ia selalu menjawab dengan prinsip yang ia pegang seumur hidup:

“Surat itu bukan cuma kertas, Nak. Dia pesan dari satu hati ke hati lain. Cinta, kabar, permintaan maaf, harapan, semua dititipkan dalam amplop, percaya bakal sampai. Dan tugas kita, tukang pos, adalah mastiin pesan itu sampai. Karena pesan yang tidak sampai bisa ngubah seluruh hidup orang, kayak surat Hartono yang nyangkut tiga puluh tahun, yang misahin dua orang yang saling cinta. ” Ia tersenyum. “Jadi jangan pernah remehin sepucuk surat. Dan jangan pernah biarin pesan penting tidak tersampaikan. Karena kadang, di balik amplop yang sederhana, ada cinta yang menunggu, dan hidup yang bisa berubah, kalau saja suratnya sampai. ”

Dan di kantor pos, di antara ribuan surat yang datang dan pergi, prinsip Pak Darmaji terus hidup di generasi tukang pos berikutnya: bahwa surat harus sampai, berapa pun lamanya, karena di balik setiap pesan ada hati manusia yang menunggu, dan menyampaikan pesan itu, betapapun terlambat, adalah tugas suci yang bisa menyatukan kembali apa yang terpisah, dan membawa cinta pulang ke tujuannya, bahkan setelah tiga puluh tahun.

Comments (0)

Sign in to leave a comment.

No comments yet. Be the first!