Kontrakan petak itu murah karena satu hal: kamar nomor empat tak pernah laku. Pemiliknya, Bu Endah, bahkan menawarkan diskon besar, tapi tetap tak ada yang bertahan lebih dari sebulan. Aku, mahasiswa kanker, kantong kering, mengambilnya tanpa banyak tanya.
“Cuma satu pesan, ” kata Bu Endah, menyerahkan kunci dengan enggan. “Kalau malam, jangan hitung suara langkah di luar kamar. Dengar saja. Jangan dihitung. ”
Aturan aneh, pikirku. Tapi demi diskon, aku mengangguk saja.
Malam pertama, aku mengerti maksudnya.
Pukul dua belas tepat, terdengar langkah di koridor depan kamarku. Pelan, teratur. Tap. Tap. Tap. Seseorang berjalan bolak-balik di depan pintu nomor empat.
Aku mengintip dari lubang pintu. Koridor kosong. Tapi suara langkah itu tetap ada, jelas, melintas dari kiri ke kanan, lalu kembali.
Aku ingat pesan Bu Endah. Jangan dihitung. Maka kupaksa diriku mengabaikannya, menutup telinga dengan bantal, dan entah bagaimana, tertidur.
Esoknya aku bertanya pada penghuni kamar sebelah, Mas Gunawan, satu-satunya yang sudah lama bertahan.
“Oh, langkah itu. ” Ia tertawa hambar. “Aku sudah tiga tahun di sini. Sudah biasa. Pokoknya turuti aturan Bu Endah. Jangan hitung langkahnya. Itu saja. ”
“Memangnya kenapa kalau dihitung? ”
Mas Gunawan terdiam, senyumnya memudar. “Dulu ada anak baru. Sok berani. Dia hitung langkahnya, katanya mau buktikan itu cuma halusinasi. Dia hitung tiap malam. ” Mas Gunawan menatapku serius. “Malam ketujuh, langkahnya berhenti tepat di depan kamarnya. Lalu mengetuk. Dan anak itu… membuka pintunya. Tidak ada yang tahu kenapa dia membuka. Tapi paginya, kamarnya kosong. Barang-barangnya masih ada. Orangnya hilang. ”
Aku berusaha menaati aturan. Tapi rasa penasaran itu, seperti gatal yang tak bisa digaruk, makin lama makin menyiksa. Tiap malam, langkah itu datang. Tap. Tap. Tap. Dan tiap malam, aku berjuang untuk tidak menghitung, padahal otakku otomatis ingin tahu: berapa langkah sampai ia berbalik? Berapa kali ia bolak-balik?
Pada malam kelima, pertahananku jebol. Tanpa sengaja, setengah tertidur, aku mulai menghitung.
Satu. Dua. Tiga. Empat…
Langkah itu berhenti.
Aku menahan napas, sadar akan kesalahanku. Hening total. Lalu, perlahan, langkah itu bergerak lagi, tapi kali ini berbeda. Bukan bolak-balik. Kali ini menuju satu arah: pintuku.
Tap. Tap. Tap. Berhenti tepat di depan kamar nomor empat.
Aku terduduk di ranjang, jantung berdebar. Dari balik pintu, terdengar suara, bukan ketukan, melainkan gesekan, seperti kuku panjang menggores kayu pelan-pelan, dari atas ke bawah.
Lalu suara, parau, kering: “Kau menghitungku. Bagus. Berarti kau memperhatikanku. Tidak seperti yang lain, yang pura-pura aku tidak ada. ”
“Pergi, ” kataku, suaraku gemetar. “Aku tidak akan membuka pintu. ”
“Tidak perlu kau buka. ” Suara itu terkekeh. “Anak yang dulu juga kupikir harus membuka. Ternyata tidak. Aku cuma butuh kau terus memperhatikanku. Tiap malam kau menghitung, kau memberiku sedikit dari dirimu. Sampai akhirnya tidak ada lagi yang tersisa untuk menolak. ”
Aku tak tidur malam itu. Aku duduk memeluk lutut sampai subuh, sementara gesekan kuku itu terus terdengar di pintu, sabar, tak henti.
Paginya aku menemui Bu Endah, menuntut penjelasan.
Ia menghela napas panjang, seolah sudah lama menunggu pertanyaan ini. “Kamar nomor empat dulu dihuni seorang perempuan tua. Penyendiri. Tidak punya keluarga, tidak punya teman. Dia mati di kamar itu, dan baru ditemukan dua minggu kemudian, karena tidak ada yang menyadari dia hilang. Tidak ada yang memperhatikannya, hidup atau mati. ”
Bu Endah menatapku. “Sekarang dia berjalan tiap malam, mencari perhatian yang tak pernah dia dapat. Kalau kau menghitung langkahnya, kau memberinya perhatian itu. Dan dia, yang kelaparan perhatian selama hidupnya, akan terus menuntut lebih, sampai kau habis. ”
“Bagaimana cara menghentikannya? ” tanyaku putus asa. “Aku sudah terlanjur menghitung. ”
Bu Endah lama terdiam. “Anak yang hilang itu tidak bisa berhenti karena dia melawan, dia takut, dia membenci, dan kebencian itu cuma bentuk lain dari perhatian. Makin dia takut, makin dia memberinya makan. ” Ia menggenggam tanganku. “Satu-satunya cara: jangan beri dia perhatian dalam bentuk apa pun. Bukan dengan menghitung, bukan dengan takut, bukan dengan membenci. Acuhkan dia sepenuhnya. Seperti dunia mengacuhkannya dulu. Sampai dia sadar kau bukan sumber makanan lagi, lalu pergi mencari yang lain. ”
Itu nasihat yang kejam, mengabaikan sesuatu yang sangat ingin diperhatikan. Tapi itu satu-satunya jalan.
Malam-malam berikutnya adalah ujian terberat dalam hidupku.
Langkah itu datang. Gesekan kuku itu datang. Suara parau memohon, mengancam, membujuk, menangis. Ia memanggil namaku, yang entah bagaimana ia tahu. Ia meniru suara ibuku. Ia berjanji, mengancam, merengek.
Dan aku, dengan seluruh kekuatan yang kupunya, tidak menanggapinya. Aku tidak menghitung. Aku tidak takut, atau berpura-pura tidak. Aku tidak membenci. Aku memperlakukannya seperti angin: ada, tapi tak berarti.
Itu menyiksa. Mengabaikan sesuatu yang begitu putus asa ingin diakui terasa hampir kejam. Tapi tiap malam, suaranya sedikit melemah. Langkahnya sedikit menjauh. Sampai pada malam ketiga belas, koridor itu sunyi total untuk pertama kalinya.
Aku bertahan di kontrakan itu sampai lulus kuliah. Kamar nomor empat tak pernah lagi mengganggu, aku, setidaknya.
Tapi sebelum aku pindah keluar, aku melihat penghuni baru datang. Mahasiswa, kantong kering sepertiku dulu, tergiur diskon besar.
Aku ingin memperingatkannya. Tapi Bu Endah menahanku dengan tatapan. “Dia tidak akan percaya, ” bisiknya. “Tidak ada yang percaya, sampai mereka mendengar langkah pertama. ”
Malam itu, dari kejauhan, aku mendengarnya lagi, langkah pelan di koridor, mencari perhatian baru, mencari seseorang yang cukup penasaran untuk menghitung.
Aku pergi tanpa menoleh. Dan aku berdoa, untuk anak baru itu, semoga ia lebih kuat menahan diri daripada rasa ingin tahunya. Karena di kontrakan itu, yang paling berbahaya bukanlah hantu yang menuntut diperhatikan, melainkan betapa manusiawinya keinginan kita untuk menanggapi sesuatu yang memohon, meski kita tahu seharusnya tidak.