Bagian 1

TUKANG TAMBAL BAN PUKUL TIGA PAGI

by AAR Nugroho12 mnt baca
0 kalimat

Ban motor Reza bocor pada pukul tiga pagi, di ruas jalan yang paling sepi, di malam yang paling ingin ia lupakan.

Ia tahu bannya bocor dari cara motor itu mulai oleng, dari suara desis halus yang kalah oleh deru mesin, dari setang yang tiba-tiba berat. Ia menepi. Ia turun. Ia menendang ban belakang sekali, pelan, lalu berdiri di sana memandangi jalan kosong yang membentang ke dua arah tanpa ujung.

Tidak ada orang. Tidak ada kendaraan. Hanya tiang-tiang listrik yang berbaris seperti pelayat, dan lampu jalan yang setengahnya mati, dan langit yang hitam tanpa bintang karena polusi kota.

Reza tertawa. Tawa pendek, getir, tanpa kegembiraan. Tentu saja bannya bocor malam ini. Tentu saja. Seakan semesta belum cukup puas.

Ia merogoh saku, mengeluarkan ponselnya. Layarnya retak di sudut, dan saldo aplikasi ojolnya menunjukkan angka yang tak cukup untuk apa pun. Notifikasi penagih utang masih menumpuk, belum ia buka sejak kemarin. Pesan dari istrinya: “Mas, susu Bila habis. Pulang bawa, ya. ” Dikirim enam jam lalu. Belum ia balas, karena ia tidak tahu harus menjawab apa kalau di dompetnya hanya ada selembar dua ribu dan recehan.

Ia memasukkan ponsel kembali. Ia memandangi motornya, satu-satunya yang ia punya, alat cari nafkah yang kini lumpuh di pukul tiga pagi. Dan untuk sesaat, sesaat yang akan ia ingat seumur hidup dengan ngeri, pikiran itu datang lagi. Pikiran yang sudah beberapa hari mengintainya. Pikiran tentang betapa mudahnya, betapa tenangnya, kalau saja ia tinggal melangkah ke tengah jalan dan menunggu truk yang lewat.

Lalu ia melihat lampu itu.

• • •

Jauh di ujung jalan, di seberang, ada satu titik cahaya kuning. Lampu neon di balik spanduk lusuh. Sebuah lapak kecil dengan tumpukan ban bekas di depannya, dan tulisan cat yang sudah pudar: TAMBAL BAN 24 JAM.

Reza mengernyit. Tambal ban buka pukul tiga pagi? Di jalan sesepi ini? Ia hampir tidak percaya. Tetapi cahaya itu nyata, dan kompresor yang berdenyut pelan terdengar samar dari kejauhan, dan di bawah lampu itu ada sosok lelaki tua yang duduk di bangku kecil, seakan sedang menunggu.

Menunggu siapa, di jam segini?

Reza menuntun motornya menyeberang. Roda belakang yang kempes menggesek aspal, suaranya seret dan menyedihkan. Semakin dekat, semakin jelas: seorang lelaki tua, mungkin enam puluhan, dengan kaus oblong yang melar dan kopiah lusuh di kepala. Wajahnya keras oleh usia tetapi matanya lembut. Di sampingnya, sebuah termos dan dua gelas plastik.

“Bocor, Mas? ” tanya lelaki itu, bangkit dari bangku sebelum Reza sempat bicara.

“Iya, Pak. Belakang. ” Reza menyandarkan motornya. “Bapak… benar-benar buka jam segini? ”

“Buka terus, ” kata lelaki itu, sudah berjongkok memeriksa ban. “Dua puluh empat jam. Tujuh hari. ” Ia menekan ban dengan ibu jari, mengangguk. “Paku. Lumayan dalam. Bentar, ya, Mas. Sepuluh menit. ”

Reza mengangguk, lalu berdiri kaku, tidak tahu harus berbuat apa. Lelaki tua itu bekerja cepat dan tenang, tangannya hafal setiap gerakan: melepas ban, mencari lubang di bak air, menandai, mengamplas, menempel karet, menekan dengan alat panas. Kompresor berdenyut. Bau karet bakar dan oli memenuhi udara.

“Duduk, Mas, ” kata lelaki itu tanpa menoleh, menunjuk bangku kosong dengan dagunya. “Kopi tuh, di termos. Gratis. Ambil saja. ”

• • •

Reza menuang kopi dengan tangan yang sedikit gemetar. Hangatnya merembes ke telapak, dan ia baru sadar betapa dinginnya tangannya, betapa lelahnya tubuhnya. Ia menyeruput. Kopi tubruk, pahit, manisnya pas. Kopi yang dibuat oleh orang yang tahu cara membuat kopi.

“Narik dari sore, Mas? ” tanya lelaki itu, masih menunduk pada ban.

“Dari pagi, Pak. ” Reza memandang gelasnya. “Belum pulang dari pagi. ”

“Wah. Rajin. ”

Reza tidak menjawab. Bukan rajin. Putus asa. Ada beda yang tipis di antara keduanya, dan malam ini ia berdiri di garis itu.

“Bapak sendiri, ” kata Reza akhirnya, mengalihkan, “kenapa buka sampai pagi? Sepi gini. Sehari paling berapa motor yang lewat jam segini? ”

Lelaki itu diam sejenak. Tangannya berhenti di atas ban, lalu lanjut lagi.

“Kadang nol, ” katanya. “Kadang satu. Kayak Mas malam ini. ”

“Terus buat apa buka, Pak? Rugi solar kompresor, rugi listrik. ”

Lelaki itu mengangkat wajahnya, dan untuk pertama kalinya menatap Reza lurus. Ada sesuatu di tatapan itu, sesuatu yang dalam dan tua dan terluka.

“Buat jaga-jaga, ” katanya pelan. “Buat orang kayak Mas. Yang kebetulan bocor jam tiga pagi, di jalan sepi, pas lagi… pas lagi tidak punya siapa-siapa. ”

Reza menelan kopinya. Ada sesuatu dalam kalimat itu yang menusuk terlalu tepat.

• • •

Mereka diam beberapa saat. Hanya kompresor, dan sesekali angin malam yang membawa bau got dan dedaunan basah. Lelaki itu menyelesaikan tambalannya, memasang kembali ban, memompanya. Tetapi ia tidak terburu-buru menyuruh Reza pergi. Ia menuang kopi untuk dirinya sendiri, duduk di bangku satunya, dan memandang jalan kosong bersama Reza.

“Mas, ” katanya setelah lama. “Boleh tua ini sok tahu? ”

Reza menoleh.

“Dari tadi Mas megang gelas kopi kayak megang pegangan terakhir. ” Lelaki itu bicara pelan, tanpa menghakimi. “Aku sudah lama jualan di sini. Aku hafal muka orang yang cuma capek, sama muka orang yang sudah mau nyerah. Mas yang kedua. ”

Reza membuka mulut untuk membantah, tetapi tidak ada suara yang keluar. Matanya tiba-tiba panas.

“Tidak apa-apa, ” kata lelaki itu. “Tidak usah dijawab. Cuma… sebelum Mas pergi, dengerin cerita orang tua bentar. Boleh? ”

Reza mengangguk, karena ia tidak punya tenaga untuk menolak.

• • •

“Aku punya anak, ” kata lelaki itu, memandang lurus ke jalan, ke kegelapan. “Lanang. Namanya Tegar. Sopir juga, kayak Mas. Tapi truk, bukan ojek. Bawa barang antarkota, malam-malam terus. ”

Ia menyeruput kopinya.

“Tiga tahun lalu, dia pulang dari Surabaya. Malam. Capek, mungkin. Bannya bocor di jalan sepi, kayak Mas malam ini. Jam-jam segini juga. ” Suaranya rata, terlalu rata, suara orang yang sudah menceritakan ini berkali-kali sampai rasa sakitnya berubah jadi sesuatu yang lain. “Dia tidak nemu tambal ban yang buka. Semua tutup. Jadi dia nekat jalan terus, pelan-pelan, nyari yang buka. Ban kempes, velgnya kena aspal. ”

Reza merasakan firasat buruk merayap.

“Di tikungan, velgnya selip. Truk-nya oleng. Masuk jurang. ” Lelaki itu berhenti. “Ketemu paginya. Sama orang yang mau ke sawah. ”

Hening. Kompresor sudah mati. Hanya angin.

“Aku dulu kerja kantoran, Mas. Pensiunan. Punya uang cukup buat hidup tenang. ” Lelaki itu menggeleng pelan. “Tapi habis Tegar pergi, aku tidak bisa diam. Aku berpikir terus, kalau saja malam itu ada tambal ban yang buka. Kalau saja ada satu lampu nyala di jalan itu. Anakku mungkin masih ada. ”

Ia menoleh pada Reza, dan matanya basah tetapi suaranya tetap tenang.

“Jadi aku buka ini. Tambal ban dua puluh empat jam. Di jalan paling sepi yang aku bisa temukan. Bukan buat cari untung, aku tidak butuh untung. Tapi biar ada satu lampu yang nyala. Biar kalau ada anak orang yang bannya bocor jam tiga pagi, dia tidak perlu nekat jalan terus. Dia bisa berhenti. Istirahat. Minum kopi. ” Ia tersenyum tipis. “Aku tidak bisa nyelametin anakku. Tapi mungkin aku bisa nyelametin anak orang lain. ”

• • •

Reza menunduk. Gelas kopi di tangannya sudah hampir kosong, dan matanya sudah tidak bisa lagi menahan apa yang sejak tadi ia tahan. Air mata jatuh, satu, dua, ke aspal di antara kakinya.

“Pak, ” katanya, suaranya serak. “Pak, jujur, ya. ”

“Sok, Mas. ”

“Tadi… sebelum lihat lampu Bapak. ” Reza menyeka wajahnya dengan punggung tangan. “Aku berdiri di pinggir jalan. Dan aku berpikir… aku berpikir gampang banget kalau aku tinggal ke tengah, nunggu truk. Selesai. Tidak ada utang lagi. Tidak ada tagihan lagi. Tidak ada anak nangis minta susu yang aku tidak bisa beli. ”

Lelaki tua itu tidak terkejut. Tidak juga panik. Ia hanya mengangguk pelan, seakan sudah menduga, dan menuang kopi lagi ke gelas Reza yang kosong.

“Berapa utang Mas? ” tanyanya tenang.

Reza menyebut angkanya. Angka yang terdengar seperti tembok bagi seorang sopir ojol dengan saldo nol.

“Banyak, ” kata lelaki itu mengakui. “Berat. Aku tidak akan bilang itu kecil, karena buat Mas itu gede. ” Ia menatap Reza. “Tapi, Mas. Anakku, Tegar, malam dia meninggal, dia juga lagi banyak utang. Aku tahu dari catatannya yang ketinggalan. Dia kerja keras malam-malam justru buat nutup utang itu. ” Suaranya bergetar sedikit. “Dan kamu tahu apa yang paling bikin aku nyesel sampai sekarang? ”

Reza menggeleng.

“Bukan utangnya. Utang itu lunas sendiri waktu dia meninggal, ada asuransi dari perusahaan truk. Sebulan setelah dia pergi, utangnya lunas semua. ” Lelaki itu tertawa pahit. “Coba bayangin, Mas. Anakku mati capek berpikirin utang yang ternyata, kalau dia sabar sebulan lagi, bisa kelar. Dia nyerah satu langkah sebelum garis finis. Itu yang tidak bisa aku maafin dari hidup. Bukan utangnya. Tapi dia nyerah pas hampir selesai. ”

• • •

Reza terdiam lama. Di kejauhan, langit mulai berubah, hitam pekat perlahan jadi biru tua. Subuh hampir datang.

“Mas punya anak? ” tanya lelaki itu.

“Punya. Bila. Dua tahun. ” Reza tersenyum tipis meski matanya basah. “Tadi istri saya nge-percakapan. Susu Bila habis. ”

“Dengerin orang tua, Mas. ” Lelaki itu meletakkan tangannya yang kasar dan berminyak di bahu Reza, dan genggaman itu hangat, seperti genggaman seorang ayah. “Utang itu bisa lunas. Pelan-pelan, susah, tapi bisa. Aku sudah lihat banyak orang yang aku kira tidak akan sanggup, ternyata sanggup. Mereka cuma butuh satu malam buat tidak nyerah. Satu lampu buat berhenti sebentar. ”

Ia menunjuk spanduk lusuh di atas mereka. TAMBAL BAN 24 JAM.

“Malam ini, lampu ini buat Mas. Besok Mas narik lagi. Besoknya lagi. Bila butuh bapaknya pulang, Mas. Bukan butuh bapaknya selesai. ” Ia meremas bahu Reza. “Anakku nyerah satu langkah sebelum finis. Jangan Mas ikut-ikutan. Tetap aku, lihat anak orang ngulang kesalahan anakku. ”

Air mata Reza tumpah, dan kali ini ia tidak menyekanya. Ia menangis di bangku kecil di bawah lampu neon tambal ban, di pukul empat pagi, di hadapan seorang lelaki tua yang baru ia kenal sejam lalu tetapi yang baru saja menariknya kembali dari tepi jurang yang sama tempat anaknya dulu jatuh.

• • •

Subuh datang. Azan mengalun dari musala di kejauhan, samar tetapi jelas, suara yang membelah kegelapan jadi terang.

Reza menyeka wajahnya, menarik napas panjang, dan untuk pertama kalinya dalam berhari-hari, napas itu terasa penuh. Bannya sudah ditambal. Motornya siap. Dan sesuatu di dalam dadanya, yang tadi terasa seperti batu, kini terasa sedikit lebih ringan.

“Berapa, Pak? Tambalnya. ” Reza merogoh saku, mengeluarkan selembar dua ribu dan recehan, satu-satunya yang ia punya.

Lelaki tua itu melihat uang di telapak tangan Reza, lalu menutup tangan itu pelan.

“Gratis, Mas, ” katanya. “Tambal ban malam ini gratis. Tapi ada syaratnya. ”

Reza menatapnya.

“Syaratnya, Mas pulang sekarang. Beliin susu Bila pakai uang itu, cukup buat susu kecil, kan? Terus peluk anak sama istri Mas. Terus besok, narik lagi. Hidup lagi. ” Lelaki itu tersenyum, senyum pertama yang lebar malam itu. “Dan kalau suatu hari Mas lihat ada orang lain yang bannya bocor jam tiga pagi, yang mukanya kayak Mas tadi, Mas berhenti. Mas temani. Mas kasih kopi. Gitu saja syaratnya. Bayar utang Mas ke aku dengan nyelametin orang lain. ”

• • •

Reza menyalakan motornya. Mesin menyala, ban belakang yang tadi kempes kini bulat dan kokoh menapak aspal. Ia memandang lelaki tua itu, yang sudah kembali duduk di bangkunya, menuang kopi, memandang jalan yang mulai terang.

“Pak, ” kata Reza. “Nama Bapak siapa? ”

“Wahyu, ” kata lelaki itu. “Panggil Pak Wahyu. ”

“Pak Wahyu. ” Reza menelan ludah. “Terima kasih. Saya… saya tidak tahu harus ngomong apa. Bapak nyelametin saya. Beneran. ”

Pak Wahyu melambaikan tangan, seakan mengusir pujian itu. “Bukan aku, Mas. Mas yang milih buat berhenti, buat nyeberang ke lampu ini, bukan ke tengah jalan. Itu pilihan Mas. Aku cuma kebetulan buka. ” Ia mengangkat gelas kopinya seperti orang bersulang. “Sekarang pulang. Bila nunggu. ”

Reza mengangguk, menarik gas, dan motornya melaju ke arah subuh yang merekah. Di kaca spion, ia melihat lampu neon itu makin kecil, satu titik kuning yang menolak padam di jalan paling sepi, dijaga oleh seorang lelaki yang mengubah dukanya jadi mercusuar.

• • •

Reza pulang pagi itu. Ia membeli susu Bila dengan dua ribu dan recehan terakhirnya. Ia memeluk istrinya yang heran kenapa matanya bengkak, dan ia memeluk anaknya yang masih tidur, lama, sampai istrinya bertanya ada apa, dan ia hanya menjawab, “Tidak apa-apa. Aku cuma kangen. ”

Utangnya tidak lunas dalam semalam. Hidup tidak bekerja seperti itu. Tetapi ia menarik lagi keesokan harinya, dan lusanya, dan seterusnya. Pelan. Susah. Tetapi ia tidak lagi berdiri di tepi jalan memikirkan truk. Setiap kali pikiran itu mengintai, ia mengingat satu titik lampu kuning di kegelapan, dan suara seorang lelaki tua: Bila butuh bapaknya pulang, bukan butuh bapaknya selesai.

Tujuh bulan kemudian, utang itu lunas. Persis seperti kata Pak Wahyu, yang ia kira tembok, ternyata bisa didaki, satu batu bata setiap hari.

• • •

Reza kembali ke tambal ban itu suatu malam, membawa kopi dan gorengan, ingin berterima kasih dengan benar. Tetapi lapak itu kosong. Spanduknya masih ada, lampunya masih menyala, tetapi tak ada Pak Wahyu.

Seorang penjual nasi di seberang memberitahunya. Pak Wahyu meninggal dua bulan lalu. Tenang, dalam tidurnya. Tetapi sebelum meninggal, ia mewariskan lapak itu pada seorang pemuda, sopir lain yang pernah ia selamatkan, katanya, dengan satu pesan yang harus diteruskan: jaga lampunya tetap nyala, buat anak orang yang bannya bocor jam tiga pagi.

Reza berdiri lama di depan lapak itu, memandang lampu neon yang masih setia menyala. Lalu ia melakukan satu hal.

Ia mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi ojol, dan mengubah jam kerjanya. Mulai malam itu, di hari-hari tertentu, ia akan menarik di rute ini. Di jam-jam paling sepi. Dan kalau ia menemukan seseorang dengan ban bocor dan wajah yang sudah mau menyerah, ia akan berhenti.

Ia akan menemani. Ia akan memberi kopi. Ia akan bercerita tentang seorang lelaki tua yang mengubah dukanya jadi cahaya, dan tentang malam ketika satu lampu kuning di kegelapan menyelamatkan hidupnya.

Karena ada utang yang tidak lunas dengan uang. Ada utang yang hanya bisa dibayar dengan menjaga lampu tetap menyala, untuk orang berikutnya, yang bannya bocor pukul tiga pagi, di jalan paling sepi, di malam yang paling ingin ia lupakan.

Comments (0)

Sign in to leave a comment.

No comments yet. Be the first!