Bagian 1

SANDAL JEPIT DI DEPAN MASJID

by AAR Nugroho11 mnt baca
0 kalimat

Pak Salim sudah menjadi marbot Masjid Al-Hidayah selama dua puluh tiga tahun. Ia hafal setiap sudut masjid kampung itu, retak di lantai teras, engsel pintu yang berderit, keran wudu yang nomor tiga selalu bocor. Dan ia hafal setiap jemaah yang datang: yang rajin subuh, yang hanya muncul Jumat, yang sandalnya bagus, yang sandalnya butut.

Maka ketika sepasang sandal jepit butut mulai muncul di teras masjid setiap subuh, dan tak pernah ada yang mengambilnya, Pak Salim memperhatikan.

Sandal itu warnanya sudah pudar, talinya pernah putus dan diikat ulang dengan kawat, solnya tipis nyaris bolong. Sandal orang miskin. Sandal yang sudah lama dipakai melebihi usia pantasnya. Setiap subuh, sandal itu ada di pojok rak, dan setiap kali jemaah subuh pulang, sandal itu masih di sana, seolah pemiliknya tak ikut pulang, atau tak punya tempat untuk pulang.

• • •

Awalnya Pak Salim mengira sandal itu tertinggal. Ia menyimpannya di rak barang hilang, menunggu pemiliknya datang mengambil. Tetapi tak ada yang datang. Dan keesokan subuhnya, sandal itu kembali muncul di teras, dipakai, lalu ditinggal lagi.

Yang lebih ganjil, kadang sandal jemaah lain hilang. Bukan sandal bagus, selalu sandal yang sederhana, yang masih layak. Dan di tempatnya, tertinggal sandal jepit butut yang sama. Seolah seseorang menukar sandalnya yang rusak dengan sandal yang lebih baik, lalu meninggalkan yang butut.

Beberapa jemaah mengeluh. “Pak Salim, sandal saya ketuker lagi. Diganti sandal jelek ini. ” Pak Salim hanya minta maaf, menyimpan sandal butut itu, dan diam-diam mengganti sandal jemaah yang hilang dengan uangnya sendiri, meski uangnya pas-pasan.

Tetapi ia penasaran. Siapa yang menukar sandal? Dan kenapa?

• • •

Maka suatu subuh, Pak Salim datang lebih awal dari biasanya, jauh sebelum azan, ketika langit masih gelap gulita dan kampung masih tidur. Ia ingin tahu siapa yang meninggalkan sandal butut itu.

Dan yang ia temukan membuat hatinya tercekat.

Di teras masjid, meringkuk di sudut dekat rak sandal, tidur seorang remaja lelaki. Mungkin lima belas, enam belas tahun. Bajunya lusuh, tubuhnya kurus, dan ia tidur beralaskan kardus, berbantal lengannya sendiri. Di kakinya, sandal jepit butut itu.

Pak Salim berdiri diam, memandang anak itu. Bukan pencuri sandal. Bukan pengganggu. Hanya seorang anak, tidur sendirian di teras masjid, di subuh yang dingin, tanpa rumah, tanpa siapa-siapa.

Pak Salim tidak membangunkannya. Ia masuk ke masjid dengan pelan, menyalakan lampu, dan menyiapkan segalanya untuk subuh. Tetapi pikirannya penuh dengan anak yang meringkuk di teras itu.

• • •

Setelah subuh, ketika jemaah sudah pulang, Pak Salim mendekati anak itu, yang kini sudah bangun dan duduk di sudut teras, tampak hendak pergi sebelum ketahuan.

“Nak, ” sapa Pak Salim lembut.

Anak itu terlonjak, wajahnya ketakutan, bersiap lari. “Maaf, Pak! Saya… saya tidak ngapa-ngapain. Saya cuma numpang tidur. Saya pergi sekarang, ”

“Tidak apa-apa, ” kata Pak Salim, suaranya menenangkan. “Tidak usah lari. Duduk dulu. ” Ia duduk di samping anak itu, di lantai teras yang dingin. “Siapa namamu? ”

Anak itu ragu, tetapi keramahan Pak Salim meluluhkannya. “Adi, Pak, ” katanya pelan.

“Adi, ” ulang Pak Salim. “Kamu tidur di sini tiap malam? ”

Adi menunduk, malu. “Iya, Pak. Maaf. Teras masjid… aman. Ada atap. Tidak kehujanan. Dan ada keran buat wudu sama… sama buat mandi sedikit. ” Ia meremas tangannya. “Saya pergi kok, Pak. Saya tidak akan ganggu lagi. ”

• • •

“Kamu tidak ganggu, Nak, ” kata Pak Salim. “Masjid ini rumah Allah. Terbuka buat siapa saja. Apalagi buat yang butuh tempat berteduh. ” Ia menatap Adi lembut. “Orang tuamu mana? ”

Mata Adi berkaca. “Tidak ada, Pak. Bapak sudah lama pergi, tidak tahu ke mana. Ibu… Ibu meninggal tahun lalu. Sakit. Tidak ada biaya berobat. ” Suaranya bergetar. “Saya sebatang kara, Pak. Tidak punya rumah, tidak punya keluarga. Saya kerja serabutan, kadang mulung, kadang bantu-bantu di pasar. Cukup buat makan sehari-hari. Tapi tidak cukup buat ngekos. ” Ia menyeka matanya cepat-cepat. “Jadi saya tidur di mana saja yang aman. Teras masjid ini… paling enak. Saya bisa ikut subuh juga, biar deket sama Ibu yang sudah tidak ada. ”

Pak Salim merasa dadanya sesak. Anak sekecil ini, sendirian di dunia, tidur di teras masjid dengan sandal jepit butut, mencari rasa aman di rumah Allah.

• • •

“Adi, ” kata Pak Salim hati-hati. “Sandal jepit butut yang sering ketinggalan itu… punyamu? ”

Wajah Adi memerah, malu dan ketakutan sekaligus. “Iya, Pak, ” akunya pelan. “Dan… dan maaf, Pak. Sandal saya sudah rusak banget, talinya putus, solnya bolong. Kalau hujan, kaki saya luka kena aspal panas atau beling. ” Ia menunduk dalam. “Kadang… kadang saya khilaf, Pak. Saya tuker sandal saya sama sandal jemaah yang lebih bagus. Saya tahu itu salah. Itu nyuri. Tapi saya… saya kepepet. Kaki saya sakit, Pak. Saya janji saya selalu niat balikin, tapi, ”

“Ssst, ” potong Pak Salim lembut, meletakkan tangan di bahu Adi. “Tidak usah dijelasin. Saya ngerti. ”

Air mata Adi tumpah. “Saya pendosa ya, Pak. Nyuri sandal di masjid. Tempat ibadah. Saya jahat banget. ”

• • •

Pak Salim memeluk bahu anak itu. “Adi, dengar Bapak. Kamu bukan pendosa, dan kamu bukan jahat. Kamu anak yang lagi susah, yang kepepet, yang kakinya sakit dan tidak punya siapa-siapa buat ngeluh. ” Ia menatap mata Adi. “Nyuri itu salah, iya. Tapi Allah Maha Tahu keadaan hamba-Nya. Dan Bapak yakin, dosa orang yang kepepet karena lapar dan sakit, beda timbangannya sama dosa orang yang nyuri karena serakah. ”

Adi terisak. “Tapi saya tetap salah, Pak. ”

“Makanya, mulai sekarang, kamu tidak perlu lagi nuker sandal, ” kata Pak Salim, tersenyum. “Karena Bapak akan kasih kamu sandal yang layak. Dan lebih dari itu, ” ia berhenti, menimbang, lalu memutuskan. “Adi, kamu mau bantu Bapak mengurus masjid ini? ”

Adi mengangkat wajah, bingung. “Maksud Bapak? ”

• • •

“Bapak sudah tua, Nak, ” kata Pak Salim. “Dua puluh tiga tahun jadi marbot. Punggung Bapak sudah sakit, ngepel lantai masjid yang luas ini makin berat. Nyapu halaman, bersihin tempat wudu, mengurus pengeras suara, Bapak butuh bantuan. ” Ia menatap Adi. “Bapak tidak bisa kasih gaji besar. Tapi Bapak bisa kasih kamu tempat tinggal, ada kamar kecil di belakang masjid, tempat Bapak nyimpen alat-alat, bisa dibersihin buat kamu tidur. Bapak bisa kasih kamu makan, Bapak masak sederhana, tapi cukup buat berdua. Dan Bapak bisa ajarin kamu mengurus masjid, biar kamu punya kerjaan tetap, punya tempat, punya… martabat. ”

Adi terpana, tak percaya. “Bapak… Bapak serius? Mau nampung saya? Anak jalanan yang nyuri sandal di masjid Bapak? ”

“Bapak serius, ” kata Pak Salim. “Dan kamu bukan anak jalanan yang nyuri sandal. Kamu Adi, anak yatim piatu yang Allah kirim ke teras masjid ini, mungkin biar Bapak yang tua dan kesepian ini punya teman, punya yang Bapak rawat. ” Matanya berkaca. “Istri Bapak sudah lama meninggal, Nak. Anak Bapak tidak ada. Bapak sendirian. Mungkin… mungkin kamu datang ke sini bukan kebetulan. Mungkin kita berdua sama-sama butuh keluarga. ”

• • •

Adi menangis, kali ini bukan tangis takut atau malu, melainkan tangis seorang anak yang, untuk pertama kali sejak ibunya meninggal, merasa ada yang peduli, ada yang menerima, ada tempat untuk pulang.

“Mau, Pak, ” isaknya. “Saya mau bantu Bapak. Saya mau mengurus masjid. Saya mau… saya mau kerja yang bener, yang halal. Saya capek nyuri, capek malu, capek sendirian. ” Ia menggenggam tangan Pak Salim. “Makasih, Pak. Makasih sudah mau nerima saya. ”

Pak Salim tersenyum, matanya basah. “Sama-sama, Nak. Sekarang, ayo. Kita bersihin kamar belakang buat kamu. Terus Bapak masakin sarapan. Kamu pasti lapar. ”

• • •

Sejak hari itu, hidup Adi berubah.

Ia tinggal di kamar kecil di belakang Masjid Al-Hidayah, sederhana, tetapi bersih, kering, dan aman. Tempat yang ia sebut “rumah” untuk pertama kali sejak ibunya tiada. Ia bangun sebelum subuh, membantu Pak Salim menyiapkan masjid: menyalakan lampu, mengetes pengeras suara, mengisi bak wudu, menggelar sajadah. Setelah jemaah pulang, ia menyapu halaman, mengepel lantai, membersihkan tempat wudu.

Pak Salim mengajarinya dengan sabar, bukan hanya cara mengurus masjid, tetapi juga mengaji, salat dengan benar, dan adab-adab yang dulu tak sempat ibunya ajarkan. Dan di malam hari, mereka makan bersama di teras masjid, masakan sederhana Pak Salim, sambil mengobrol, dua jiwa kesepian yang menemukan satu sama lain.

Sandal jepit butut Adi, Pak Salim simpan, bukan dibuang. “Biar kamu inget, Nak, ” katanya, “dari mana kamu mulai. Biar kalau nanti kamu sudah punya yang lebih baik, kamu tidak lupa sama dirimu yang dulu, dan tidak lupa sama orang-orang yang masih kayak kamu dulu. ”

• • •

Bulan-bulan berlalu. Adi tumbuh, bukan hanya lebih sehat karena makan teratur dan tidur nyenyak, tetapi juga lebih tenang, lebih percaya diri, lebih bermartabat. Jemaah masjid yang dulu mengeluh sandalnya tertukar, kini mengenal Adi sebagai “asisten marbot yang rajin”, anak muda sopan yang selalu menyambut mereka dengan senyum, menata sandal mereka di rak, menjaga agar tak ada lagi yang hilang.

Tak ada yang tahu, kecuali Pak Salim, bahwa anak yang kini menjaga sandal mereka dengan teliti adalah anak yang dulu, dalam kepepet dan kelaparan, pernah menukar sandal mereka. Pak Salim menjaga rahasia itu, melindungi martabat Adi, tidak pernah membiarkan masa lalu anak itu menjadi aib.

Suatu hari, salah seorang jemaah, Pak Haji Umar, orang berada di kampung itu, terkesan dengan Adi dan bertanya pada Pak Salim, “Anak itu rajin sekali, Pak Salim. Anak siapa? ”

“Anak saya, ” jawab Pak Salim, tanpa ragu, dengan senyum bangga. “Anak yang Allah titipkan ke saya. ”

• • •

Pak Haji Umar, yang tergerak, menawarkan untuk membiayai sekolah Adi. “Sayang kalau anak serajin dan sebaik itu tidak sekolah, Pak Salim. Biar saya yang tanggung. Anggap saja sedekah saya. ”

Maka Adi, yang putus sekolah sejak ibunya sakit, kembali bersekolah, sambil tetap membantu Pak Salim mengurus masjid. Ia belajar dengan tekun, mengejar ketertinggalan, dengan semangat seorang anak yang tahu betapa berharganya kesempatan kedua.

Dan setiap kali ia merasa lelah, atau hampir menyerah, ia teringat sandal jepit butut yang Pak Salim simpan, pengingat dari mana ia berasal, dan betapa jauh ia telah melangkah berkat kepedulian seorang marbot tua yang tidak menghakiminya.

• • •

Tahun-tahun berlalu. Pak Salim semakin tua, semakin renta. Dan ketika tubuhnya tak lagi kuat menjadi marbot, Adi, yang kini sudah dewasa, lulus sekolah, tumbuh menjadi pemuda saleh dan bertanggung jawab, menggantikannya.

Adi menjadi marbot Masjid Al-Hidayah. Anak yatim piatu yang dulu tidur di teras dengan sandal jepit butut, yang dulu menukar sandal jemaah karena kepepet, kini menjaga masjid yang sama dengan cinta dan dedikasi yang ia warisi dari Pak Salim.

Dan ia merawat Pak Salim di hari tua, bukan lagi sebagai marbot dan asisten, melainkan sebagai anak dan ayah. Ia menyuapi Pak Salim yang sudah sulit makan sendiri, memandikannya, menemaninya. Membalas, dengan caranya, kepedulian yang dulu Pak Salim berikan padanya di teras masjid yang dingin.

• • •

Ketika Pak Salim akhirnya wafat, dengan tenang, dalam usia tua, ditemani Adi yang menggenggam tangannya, seluruh kampung melayat. Dan Adi, yang memandikan dan menyalatkan jenazah lelaki yang telah menjadi ayahnya, berbisik di pemakaman:

“Bapak nemu saya di teras masjid, sebagai anak jalanan yang nyuri sandal. Bapak tidak ngehakimi saya. Bapak nampung saya, ngasih saya tempat, ngasih saya martabat, ngasih saya keluarga. ” Air matanya jatuh ke tanah makam. “Saya tidak akan pernah bisa balas semua itu, Pak. Tapi saya janji, saya akan jaga masjid ini kayak Bapak jaga. Dan saya akan jadi buat anak-anak jalanan yang lain, seperti Bapak buat saya. Itu cara saya balas budi Bapak. ”

• • •

Adi menepati janjinya.

Sebagai marbot Masjid Al-Hidayah, ia tidak pernah mengusir siapa pun yang datang berteduh. Teras masjid itu selalu terbuka bagi para musafir, bagi orang-orang yang tak punya tempat, bagi anak-anak jalanan yang mencari rasa aman. Dan ketika ia menemukan sandal jepit butut tertinggal di rak, yang masih sesekali terjadi, ia tidak marah, tidak menghakimi. Ia tahu apa artinya.

Ia akan mencari pemiliknya, seperti Pak Salim dulu mencarinya. Dan ia akan menawarkan apa yang dulu ditawarkan padanya: bukan sekadar sandal baru, melainkan tempat, martabat, dan kepedulian yang tidak menghakimi.

Sandal jepit butut milik Pak Salim, yang dulu disimpan sebagai pengingat, kini Adi simpan di kamar marbot, di samping foto Pak Salim. Dua benda yang mengingatkannya setiap hari: dari mana ia berasal, dan kepada siapa ia berutang seluruh hidupnya yang baru.

• • •

Di Masjid Al-Hidayah, jemaah datang dan pergi setiap hari. Mereka melepas sandal di rak, menunaikan salat, lalu pulang. Sebagian besar tak pernah tahu kisah di balik marbot yang menyambut mereka dengan senyum, atau kisah sandal jepit butut yang dulu menjadi awal segalanya.

Tetapi bagi Adi, dan bagi kenangan tentang Pak Salim, masjid itu adalah saksi sebuah kebenaran sederhana namun dalam: bahwa kepedulian yang tulus dan tidak menghakimi bisa mengubah hidup seseorang sepenuhnya. Bahwa memuliakan orang kecil, anak jalanan dengan sandal butut sekalipun, adalah ibadah yang tak kalah agung dari salat di saf terdepan.

Dan bahwa kadang, Allah mengirim seseorang yang paling membutuhkan ke pintu kita, di teras masjid, di subuh yang dingin, dengan sandal jepit yang talinya diikat kawat, bukan untuk kita usir atau hakimi, melainkan untuk kita rangkul, kita muliakan, dan kita jadikan keluarga.

Sebab, seperti yang dulu Pak Salim katakan pada Adi di teras masjid itu: “Masjid ini rumah Allah, Nak. Terbuka buat siapa saja. Apalagi buat yang butuh tempat berteduh. ” Dan teras Masjid Al-Hidayah, sampai hari ini, tetap terbuka, bagi setiap langkah kaki yang mencari, dengan sandal apa pun yang mereka kenakan.

Comments (0)

Sign in to leave a comment.

No comments yet. Be the first!