Bagian 1

MANTAN DI ACARA PERNIKAHAN

by AAR Nugroho4 mnt baca
0 kalimat

Ada hukum tak tertulis dalam hidup: kalau kau datang ke pernikahan teman dengan harga diri yang baru saja sembuh, semesta pasti memastikan mantanmu juga diundang. Dan benar saja. Begitu aku masuk ke gedung resepsi, orang pertama yang kulihat di seberang ruangan adalah Dewa.

Mantan pacarku. Yang putus dariku dua tahun lalu dengan kalimat klasik: “Ini bukan salahmu, ini salahku. ” Padahal jelas-jelas memang salahnya.

“Tenang, tenang, ” gumamku pada diri sendiri. “Kamu sudah lanjut hidup. Kamu kuat. Kamu, ”

“Mira? ”

Sialnya, ia menghampiri.

• • •

“Lama tidak ketemu, ” kata Dewa, dengan senyum yang dulu membuatku lemas dan sekarang cuma membuatku waspada. “Kamu… makin cantik. ”

“Kamu juga makin… ada. ” Aku tersenyum manis. “Maksudku, masih hidup. Syukurlah. ”

Ia tertawa, mengira aku bercanda. Aku tidak.

Kami terjebak di meja yang sama, tentu saja, karena panitia pernikahan punya selera humor yang kejam dengan menempatkan nama kami berdampingan di kartu meja. Sepanjang acara, Dewa mencoba mengobrol seolah kami berpisah baik-baik, padahal ia menghilang dua tahun lalu tanpa kabar setelah mengirim pesan putus lewat percakapan.

“Kamu masih kerja di tempat yang sama? ” tanyanya.

“Sudah pindah. Naik jabatan. ” Aku menyeruput jus. “Hidup jauh lebih baik tanpa beban yang tidak perlu, ternyata. ”

Ia berdeham, mengerti sindiran itu.

• • •

Lalu datang penyelamat tak terduga.

Seorang lelaki, entah dari mana, menarik kursi kosong di sebelahku. “Maaf telat, sayang, ” katanya santai, mencium pipiku seolah hal paling biasa di dunia. “Macet parah. ”

Aku membeku. Aku tak mengenalnya. Sama sekali.

“Oh, ” kata Dewa, raut wajahnya berubah. “Kamu… datang sama pasangan? ”

Lelaki asing itu menoleh padaku, matanya berkedip sekilas, isyarat untuk ikut bermain. Dan karena harga diriku lebih besar daripada kebingunganku, aku menyambar kesempatan itu.

“Iya, ” kataku, menggandeng lengannya. “Ini… Arga. Pacarku. ”

“Arga, ” ulang lelaki itu lancar, mengulurkan tangan pada Dewa. “Senang berkenalan. Mira sering cerita soal teman-teman lamanya. ”

Dewa menjabat dengan kaku. Sepanjang sisa acara, ia jadi pendiam, sementara “Arga” memainkan perannya dengan sempurna: mengisi gelasku, menertawakan lelucon receh, bahkan menyelipkan cerita-cerita palsu tentang “kencan pertama kami” yang ia karang dengan sangat meyakinkan.

• • •

Saat Dewa akhirnya pamit lebih dulu, dengan ekspresi seseorang yang baru saja kalah dalam pertandingan yang tak ia sadari sedang dimainkan, aku menghela napas lega dan menoleh pada penyelamatku.

“Terima kasih, ” kataku. “Dan… maaf. Kamu siapa, sebenarnya? ”

Ia tertawa. “Bimo. Sepupu pengantin perempuan. Aku lihat dari tadi kamu tersiksa di meja itu. Wajahmu seperti orang yang dipaksa makan sambil disuruh senyum. ”

“Seburuk itu, ya? ”

“Lebih buruk. ” Ia menyeringai. “Mantan, kutebak? ”

“Setahun pacaran, lalu dia hilang lewat percakapan. ” Aku memutar mata. “Klasik. ”

“Dan kamu datang ke sini sendirian, dengan dandanan terbaik, siap menunjukkan bahwa kamu baik-baik saja. ” Bimo mengangguk paham. “Aku cuma mempercepat prosesnya. ”

• • •

Kami mengobrol, kali ini sungguhan. Ternyata Bimo bukan sekadar penyelamat dadakan, ia lucu, perhatian, dan punya cara memandang yang membuatku lupa bahwa setengah jam lalu aku sedang berperang dingin dengan masa laluku.

“Jadi, ” katanya, saat acara mulai sepi, “sekarang setelah dramanya selesai, aku punya pengakuan. ”

“Apa? ”

“Aku sebenarnya tidak benar-benar terpaksa menyelamatkanmu. ” Ia menggaruk tengkuk, sedikit malu. “Aku sudah memperhatikanmu sejak kamu masuk gedung. Adegan 'pacar telat' itu cuma alasan yang kebetulan masuk akal. ”

Aku menatapnya, dan untuk pertama kalinya sepanjang malam, jantungku berdebar bukan karena emosi pada mantan, melainkan karena hal yang jauh lebih menyenangkan.

“Jadi kamu menipuku untuk menipu mantanku? ”

“Kira-kira begitu. ” Ia nyengir. “Modus berlapis. Maaf. ”

Aku tertawa, tawa lepas pertama malam itu. “Modus yang lumayan kreatif, harus kuakui. ”

• • •

Pesta usai. Bimo mengantarku ke parkiran, kami berjalan pelan, masih tertawa membahas wajah Dewa yang berubah masam sepanjang acara.

“Mira, ” kata Bimo, saat kami sampai di mobilku, “karena tadi aku sudah jadi pacar palsumu seharian, bagaimana kalau besok aku coba jadi yang asli? Makan malam. Tanpa mantan, tanpa drama, tanpa peran. ”

Aku pura-pura menimbang. “Hmm. Tapi kamu sudah hafal cerita kencan pertama kita yang palsu itu. Sayang kalau tidak dipakai. ”

“Berarti besok kita buat yang asli, biar ada pembandingnya. ”

Aku tersenyum. Datang ke pernikahan ini, aku menyiapkan diri untuk menghadapi masa lalu. Aku tidak menyiapkan diri untuk menemukan kemungkinan masa depan di meja yang sama.

“Boleh, ” kataku. “Tapi jangan telat. Aku tidak suka pacar yang datangnya pakai alasan macet. ”

Bimo tertawa. “Itu kan tadi cuma akting. ”

“Buktikan besok, ” kataku, lalu masuk ke mobil, tersenyum sepanjang perjalanan pulang, untuk alasan yang sama sekali tak ada hubungannya dengan mantan yang tadi kukalahkan tanpa sengaja.

Comments (0)

Sign in to leave a comment.

No comments yet. Be the first!