Bagian 1

LELAKI YANG MENUA TERBALIK

by AAR Nugroho7 mnt baca
0 kalimat

Aku bertemu Arga saat ia berusia enam puluh tahun dan aku dua puluh lima. Tapi kisah kami tak seperti yang kaubayangkan, karena Arga punya kondisi yang tak bisa dijelaskan dokter mana pun: tubuhnya menua terbalik. Setiap tahun, ia tampak semakin muda.

Aku tak percaya saat pertama kali ia menceritakannya. Tapi ia menunjukkan foto-foto: dirinya yang renta di usia empat puluh, lalu makin muda di usia lima puluh, dan kini, di usia enam puluh, ia tampak seperti lelaki tiga puluhan yang menawan.

“Aku tahu ini gila, ” katanya, di bangku taman tempat kami bertemu. “Tapi aku lelah menyimpannya sendiri. Kau orang pertama yang kuceritakan dalam sepuluh tahun. ”

Entah kenapa, aku percaya. Mungkin karena matanya, mata tua yang menyimpan enam puluh tahun, terpasang di wajah yang tampak muda.

• • •

Kami jatuh cinta dengan cara yang tak masuk akal.

Bagi dunia, kami pasangan biasa: perempuan muda dan lelaki yang tampak sebaya. Tapi kami berdua tahu kebenaran yang aneh, bahwa seiring waktu, jarak usia kami secara penampilan akan terus menyempit, lalu terbalik. Suatu hari nanti, aku akan tampak lebih tua darinya. Lalu jauh lebih tua. Dan ia akan terus memuda, sementara aku menua seperti manusia biasa.

“Bagaimana kalau kita tidak memikirkan itu dulu? ” kata Arga, saat aku mengkhawatirkannya. “Bagaimana kalau kita cuma menjalani hari ini? ”

Tapi “hari ini” punya cara berubah jadi “bertahun-tahun”, dan kekhawatiran yang kutunda punya cara untuk kembali menagih.

• • •

Lima tahun pertama adalah yang paling membahagiakan. Arga, yang kini tampak tiga puluhan, dan aku yang tiga puluh. Kami menikah. Kami membangun rumah. Kami hidup seperti pasangan normal mana pun, dan untuk sementara, kondisinya terasa seperti rahasia manis yang hanya milik kami berdua.

Tapi waktu, seperti biasa, tak pernah berhenti.

Di tahun kesepuluh pernikahan kami, perbedaannya mulai terlihat. Aku empat puluh, dengan garis-garis halus pertama di wajah dan beberapa helai uban. Arga, yang seharusnya tujuh puluh, tampak seperti lelaki dua puluh delapan, segar, tanpa kerut, penuh energi muda.

Orang-orang mulai bertanya. Tetangga berbisik. Di restoran, pelayan mengira aku kakaknya. Sekali, seseorang mengira aku ibunya.

Tiap kali itu terjadi, Arga menggenggam tanganku erat-erat. “Aku tidak peduli kata orang, ” bisiknya. “Aku tahu siapa kau bagiku. ”

Tapi aku tahu, jauh di dalam, luka itu menumpuk, untuk kami berdua.

• • •

“Kau harus meninggalkanku, ” kataku suatu malam, di tahun kelima belas pernikahan kami. Aku empat puluh lima. Arga tampak dua puluh tiga.

“Apa? ” Ia menatapku, terluka. “Kenapa kau berkata begitu? ”

“Karena ini tidak adil untukmu. ” Air mataku jatuh. “Kau makin muda. Kau akan hidup melihatku menua, sakit, lalu mati, sementara kau tetap muda. Kau pantas mendapat seseorang yang bisa menua bersamamu, atau dalam kasusmu, memuda bersamamu. Bukan perempuan tua yang akan jadi beban. ”

Arga terdiam lama. Lalu ia mengambil tanganku, menciumnya.

“Dengar, ” katanya. “Aku sudah hidup mundur selama puluhan tahun. Kau tahu apa yang kupelajari? Bahwa usia, maju atau mundur, tidak ada artinya tanpa seseorang untuk berbagi. Aku tidak peduli aku tampak dua puluh atau kau tampak enam puluh. Yang kupedulikan adalah aku ingin menghabiskan setiap tahun yang tersisa, ke arah mana pun waktu membawaku, bersamamu. ”

• • •

Tahun-tahun berlalu, dan kondisi Arga membawa tantangan yang tak pernah dihadapi pasangan mana pun.

Saat aku lima puluh lima dan Arga tampak tiga belas, kami tak bisa lagi keluar bersama sebagai pasangan. Dunia tak akan mengerti. Kami menjalani cinta dalam empat dinding rumah, di mana usia tak penting, di mana Arga, meski berwajah remaja, tetaplah lelaki tua yang bijak yang kunikahi, dengan ingatan enam puluh tahun lebih dan cinta yang tak pernah memuda meski tubuhnya iya.

“Aku takut, ” kataku suatu malam, memeluknya yang kini tampak seperti anak. “Aku takut suatu hari kau akan jadi anak kecil, lalu bayi, lalu… lalu apa? Apa yang terjadi padamu, Arga? Ke mana waktu membawamu? ”

“Aku tidak tahu, ” akunya jujur. “Mungkin aku menghilang. Mungkin aku kembali ke awal. Tapi apa pun itu, aku ingin kau tahu, setiap detik bersamamu adalah hadiah yang tak pernah kusangka akan kudapat di hidup yang aneh ini. ”

• • •

Saat aku enam puluh, Arga tampak seperti bocah delapan tahun. Tapi di balik mata kanak-kanak itu, masih ada lelaki yang kunikahi, yang menggenggam tanganku dengan jari kecil dan berkata, dengan suara yang masih menyimpan kebijaksanaan tua, “Aku masih mencintaimu, sayang. Tubuh boleh berubah. Cinta tidak. ”

Aku merawatnya seperti merawat sesuatu yang paling berharga di dunia. Aku membacakannya cerita, bukan karena ia tak bisa membaca, tapi karena ia suka mendengar suaraku. Aku menyimpan semua kenangan kami dalam album-album tebal, agar ketika ingatannya mulai memudar bersama tubuhnya yang mengecil, ia bisa melihat siapa dirinya, siapa kami.

“Ceritakan lagi, ” pintanya suatu malam, dengan suara bocah, “tentang hari kita bertemu. ”

Dan aku menceritakannya, untuk keseribu kalinya, tentang bangku taman dan lelaki enam puluh tahun berwajah muda yang mengubah hidupku.

• • •

Arga terus memuda. Dan seiring tubuhnya mengecil, ingatannya pun mulai menyusut, bukan karena penyakit, melainkan karena ia benar-benar kembali ke masa kanak-kanak, lalu lebih jauh lagi.

Tapi anehnya, satu hal tak pernah hilang darinya: ia selalu mengenaliku. Bahkan ketika ia lupa namanya sendiri, ketika ia tak ingat pernah dewasa, ketika ia hanya bocah kecil yang ketakutan pada dunia yang membingungkan, ia selalu mencari tanganku, selalu tenang dalam pelukanku, selalu memanggilku dengan satu kata yang tak pernah ia lupa.

“Cinta, ” panggilnya, meski mungkin tak lagi mengerti artinya. Itu kata terakhir yang ia pegang, di antara semua yang hilang.

• • •

Aku merawatnya sampai akhir. Sampai ia mengecil menjadi bayi, lalu, di suatu pagi yang tenang, dengan cahaya matahari masuk lewat jendela, ia menghilang. Tak ada jasad, tak ada perpisahan dramatis. Hanya selimut kosong di tempat tidur, dan aroma samar yang perlahan memudar, seolah ia memang kembali ke titik sebelum ia pernah ada.

Aku berduka dengan cara yang tak bisa kuceritakan pada siapa pun. Bagaimana menjelaskan bahwa suamiku tak meninggal, melainkan “kembali ke awal”? Bagaimana menjelaskan bahwa aku menghabiskan tiga puluh lima tahun mencintai seorang lelaki yang menua terbalik, dan kini ia tak ada, di mana pun, dalam bentuk apa pun?

Tapi aku tidak menyesal. Tidak sedetik pun.

• • •

Sekarang aku tua. Rambutku putih, langkahku pelan, dan orang-orang yang dulu berbisik tentang “perempuan tua dengan suami muda” sudah lama lupa. Aku duduk di bangku taman yang sama tempat aku bertemu Arga, memegang album foto kami, foto-foto seorang lelaki yang makin muda di tiap halaman, dan seorang perempuan yang makin tua di sampingnya.

Orang yang lewat mungkin mengira aku nenek yang melihat foto cucu. Mereka tak akan pernah tahu bahwa lelaki muda di foto itu adalah suamiku, cinta sejatiku, yang menghabiskan hidup berjalan mundur menujuku.

“Kau tahu, ” kataku pada angin, seperti kebiasaanku tiap sore di bangku ini, “orang bilang cinta sejati itu tumbuh bersama, menua bersama. Kita tidak pernah bisa begitu. Kau memuda, aku menua. Kita berpapasan di tengah, lalu berpisah ke arah yang berlawanan. ” Aku tersenyum, air mata di pipi keriputku. “Tapi di titik perpapasan itu, di tahun-tahun ketika kita seusia, kita punya cinta yang lebih utuh daripada yang dimiliki banyak pasangan dalam seumur hidup. ”

• • •

Aku menutup album itu, menatap matahari yang mulai terbenam, warna yang sama seperti senja saat aku pertama kali duduk di bangku ini bersamanya.

Dokter tak pernah bisa menjelaskan kondisi Arga. Tapi aku punya teori sendiri, yang kusimpan seperti rahasia suci: mungkin sebagian orang dikirim ke dunia bukan untuk menua bersama kita, melainkan untuk mengajari kita bahwa cinta tidak diukur dari berapa lama, atau seberapa wajar, atau apakah kalian bisa bertambah tua berdampingan.

Cinta diukur dari kesediaan untuk hadir, di setiap versi diri yang dicintai. Aku mencintai Arga sebagai lelaki tua berwajah muda, sebagai pria sebaya, sebagai pemuda, sebagai remaja, sebagai bocah, sebagai bayi. Aku mencintainya di setiap titik perjalanannya yang terbalik.

Dan jika ada kehidupan lain setelah ini, jika ada tempat di mana waktu tak berjalan maju atau mundur melainkan berhenti, aku akan menunggunya di sana, di bangku taman, di senja yang sama, siap mencintainya lagi, ke arah mana pun waktu memutuskan untuk membawanya.

Comments (0)

Sign in to leave a comment.

No comments yet. Be the first!