Bagian 1

ANTREAN SUBUH

by AAR Nugroho10 mnt baca
0 kalimat

Bu Sri dan Bu Tin berjualan sayur bersebelahan di Pasar Subuh Karangrejo selama lima tahun, dan selama lima tahun itu, mereka bersaing dengan dedikasi dua jenderal yang berperang setiap pagi sebelum matahari terbit.

Pasar Subuh buka pukul tiga dini hari, ketika kota masih tidur dan udara masih dingin menggigit. Para pedagang datang dengan dagangan segar dari petani, menata lapak di bawah lampu temaram, dan menunggu pembeli, pemilik warung, ibu rumah tangga, pedagang makanan, yang datang berburu sayur segar dengan harga terbaik.

Dan di antara puluhan lapak, dua lapak sayur bersebelahan, milik Bu Sri dan Bu Tin, adalah medan perang paling sengit. Keduanya menjual sayur yang sama. Keduanya memperebutkan pembeli yang sama. Dan keduanya, dengan gengsi dua perempuan keras kepala, bertekad jadi yang terlaris.

“Bayam saya lebih segar, Bu! ” seru Bu Sri pada pembeli yang lewat. “Baru dari Lembang subuh tadi! ”

“Tapi harga saya lebih murah! ” balas Bu Tin, tak mau kalah. “Lebih segar dan lebih murah, kenapa beli di sebelah? ”

• • •

Persaingan mereka legendaris di Pasar Subuh. Mereka saling menurunkan harga sampai nyaris rugi, hanya untuk merebut pembeli dari yang lain. Mereka saling sindir, saling pamer dagangan, saling berebut pelanggan dengan rayuan dan teriakan. Pedagang lain sampai hafal: kalau mau hiburan subuh, lihat saja perang Bu Sri dan Bu Tin.

Yang tak banyak orang tahu adalah bahwa di balik persaingan sengit itu, Bu Sri dan Bu Tin sebenarnya sangat mirip. Keduanya janda, suami mereka sudah lama tiada. Keduanya tulang punggung keluarga, Bu Sri menghidupi tiga anak dan seorang ibu tua, Bu Tin menghidupi dua anak dan seorang cucu yatim. Keduanya bangun pukul dua dini hari setiap hari, berjualan sampai siang, demi menyambung hidup keluarga.

Mereka bersaing bukan karena benci, melainkan karena keduanya sama-sama berjuang untuk bertahan hidup. Setiap pembeli yang direbut adalah beberapa ribu rupiah lebih untuk anak-anak mereka. Persaingan itu, bagi mereka, adalah perjuangan hidup yang nyata.

• • •

“Bu Sri tuh nyebelin banget, ” keluh Bu Tin pada pedagang lain. “Tiap ada pembeli mau ke lapak saya, dia langsung teriak nawarin yang lebih murah. Ngerebut terus. ”

“Bu Tin juga sama saja, ” balas Bu Sri ketika mendengar. “Dia yang mulai. Dia banting harga gila-gilaan, bikin pembeli pada lari ke dia. Saya cuma bertahan. ”

Mereka saling menyalahkan, saling menganggap yang lain sebagai musuh. Selama lima tahun, hubungan mereka hanya persaingan, tatapan tajam, sindiran, perebutan pembeli. Tak pernah ada kata ramah di antara mereka.

Sampai suatu subuh, ketika Bu Tin tidak datang ke pasar.

• • •

Bu Sri memperhatikan lapak sebelahnya kosong subuh itu. Aneh. Bu Tin tak pernah absen, sama seperti dirinya, Bu Tin terlalu butuh penghasilan untuk membolos. Subuh pertama, Bu Sri menganggapnya kebetulan, bahkan diam-diam senang karena tak ada saingan. Lebih banyak pembeli untuknya.

Tetapi subuh kedua, Bu Tin masih tak datang. Dan subuh ketiga. Lapak sebelah tetap kosong, dan Bu Sri mulai merasa ada yang tidak beres.

Ia bertanya pada pedagang lain. Dan kabar yang ia dapat membuat dadanya, yang selama ini hanya menyimpan persaingan, terasa berat.

“Bu Tin sakit, Bu Sri, ” kata seorang pedagang. “Sakit keras, katanya. Masuk rumah sakit. Tidak ada yang jualan, jadi keluarganya tidak ada pemasukan. Kasian, anak-anaknya, sama cucunya yang yatim itu. Mau makan apa mereka kalau Bu Tin sakit tidak bisa jualan? ”

Bu Sri terdiam. Saingannya, perempuan yang selama lima tahun ia anggap musuh, sakit keras, dan keluarganya terancam kelaparan tanpa penghasilan.

• • •

Bu Sri seharusnya senang, mungkin. Saingannya tumbang. Lapak sebelah kosong, semua pembeli jadi miliknya. Secara bisnis, ini kemenangan.

Tetapi Bu Sri tidak merasa menang. Ia merasa… resah. Karena di balik persaingan lima tahun, ia tahu siapa Bu Tin sebenarnya: seorang janda, tulang punggung keluarga, yang berjuang setiap subuh demi anak-anak dan cucunya yang yatim. Persis seperti dirinya.

Dan membayangkan keluarga Bu Tin, anak-anak dan cucu yatim itu, kelaparan karena Bu Tin sakit, membuat hati Bu Sri tak tenang. Persaingan adalah satu hal. Tetapi membiarkan keluarga saingannya menderita ketika ia bisa membantu, itu hal lain.

“Ah, bukan urusan saya, ” gumam Bu Sri, mencoba mengusir rasa resah itu. “Dia saingan saya. Lagian, kalau dia tidak jualan, dagangan saya makin laris. Bagus buat saya. ”

Tetapi sepanjang subuh itu, ketika ia melayani pembeli yang biasanya direbut Bu Tin, Bu Sri tak bisa mengusir bayangan keluarga saingannya yang kelaparan. Dan menjelang siang, ia membuat keputusan yang mengejutkan dirinya sendiri.

• • •

Sepulang dari pasar, Bu Sri pergi ke rumah sakit tempat Bu Tin dirawat.

Ia datang dengan canggung, selama lima tahun mereka hanya bersaing, tak pernah benar-benar bicara baik-baik. Dan ketika ia masuk ke kamar rumah sakit, Bu Tin, yang terbaring lemah, pucat, menatapnya dengan bingung, bahkan curiga.

“Bu Sri? Ngapain ke sini? ” tanya Bu Tin, suaranya lemah. “Mau ngeliat saya tumbang? Mau mastiin saingan kamu benar-benar kalah? ”

Bu Sri terdiam, tertampar oleh kepahitan dalam suara Bu Tin. Tetapi ia menggeleng. “Bukan, Bu Tin, ” katanya pelan. “Saya… saya denger Bu Tin sakit. Dan saya denger keluarga Bu Tin tidak ada pemasukan karena Bu Tin tidak bisa jualan. Anak-anak, sama cucu yatim Bu Tin. ” Ia menelan ludah. “Saya tidak bisa diem saja, Bu. Walaupun kita saingan. ”

Bu Tin menatapnya, terkejut. “Maksud kamu? ”

• • •

“Saya mau bantu, ” kata Bu Sri. “Selama Bu Tin sakit, biar saya yang jualin sayur Bu Tin juga. Di lapak Bu Tin. Hasilnya buat keluarga Bu Tin. ” Ia mengeluarkan amplop dari tasnya. “Dan ini, modal dikit dari saya. Buat keluarga Bu Tin makan dulu, sampai Bu Tin sembuh dan bisa jualan lagi. ”

Bu Tin menatap amplop itu, lalu menatap Bu Sri, tak percaya. “Kamu… kamu mau jualin sayur saya? Bantu keluarga saya? Tapi kita saingan, Bu. Selama lima tahun kita berebut pembeli. Kenapa kamu malah bantu saya? ”

Bu Sri terdiam, mencari kata. “Karena saya sadar sesuatu, Bu Tin, ” katanya akhirnya. “Selama lima tahun kita berperang, saya lupa satu hal: kita ini sama. Sama-sama janda. Sama-sama tulang punggung keluarga. Sama-sama bangun jam dua subuh tiap hari demi anak-anak kita. ” Air matanya mulai mengalir. “Kita bukan musuh, Bu Tin. Kita berdua cuma perempuan yang berjuang buat keluarga. Dan pas Bu Tin tumbang, saya sadar, saya tidak tega lihat keluarga Bu Tin menderita, walaupun Bu Tin saingan saya. Karena kalau saya yang sakit, saya juga pasti berharap ada yang bantu keluarga saya. ”

• • •

Bu Tin menangis, terharu oleh kebaikan yang tak ia duga dari perempuan yang selama lima tahun ia anggap musuh.

“Bu Sri, ” isaknya. “Selama ini saya benci kamu. Saya anggap kamu musuh, saingan yang harus saya kalahin. Tiap subuh saya berusaha ngalahin kamu, ngerebut pembeli dari kamu. ” Ia menggenggam tangan Bu Sri. “Tapi pas saya tumbang, pas keluarga saya terancam, justru kamu, saingan saya, yang datang nolong. Bukan pedagang lain yang saya kira temen. Tapi kamu, yang saya kira musuh. ” Ia menangis lebih keras. “Maafin saya, Bu Sri. Maafin saya sudah benci kamu selama ini. ”

“Saya juga minta maaf, Bu Tin, ” kata Bu Sri. “Kita berdua salah. Kita habisin lima tahun berperang, padahal harusnya kita saling bantu. Sesama wong cilik, sesama perempuan yang berjuang. Kita harusnya jadi sahabat, bukan musuh. ”

Dan di kamar rumah sakit itu, dua saingan yang berperang lima tahun, akhirnya berdamai, disatukan oleh musibah, oleh kesadaran bahwa mereka tak pernah benar-benar musuh, melainkan dua jiwa yang berjuang untuk hal yang sama.

• • •

Selama Bu Tin sakit, Bu Sri menepati janjinya. Setiap subuh, ia menjaga dua lapak, lapaknya sendiri dan lapak Bu Tin, menjual sayur keduanya, dan menyerahkan seluruh hasil lapak Bu Tin pada keluarga sang saingan. Itu berarti kerja dua kali lipat, lelah dua kali lipat, di usia yang tak lagi muda. Tetapi Bu Sri melakukannya tanpa mengeluh.

Pedagang lain di Pasar Subuh terheran-heran. “Bu Sri, kenapa kamu repot-repot jualin sayur saingan kamu? Itu kan kesempatan kamu monopoli pembeli. Kenapa malah bantu Bu Tin? ”

“Karena kita sesama wong cilik, ” jawab Bu Sri. “Sesama perempuan yang berjuang buat keluarga. Persaingan itu wajar, tapi ada batasnya. Pas saingan kita tumbang, pas keluarganya terancam, itu bukan waktu buat menang. Itu waktu buat nolong. ” Ia tersenyum. “Lagian, kalau saya yang sakit, saya juga pengen Bu Tin nolong keluarga saya. Itu yang namanya manusia. ”

• • •

Kebaikan Bu Sri mengubah seluruh Pasar Subuh. Para pedagang lain, yang menyaksikan seorang pedagang membantu saingannya yang tumbang, mulai berpikir ulang tentang persaingan mereka sendiri. Pelan-pelan, semangat solidaritas tumbuh, pedagang yang dulu hanya bersaing, kini mulai saling membantu, saling menjaga, saling mendukung di saat susah.

Mereka membentuk semacam paguyuban, dana bersama untuk pedagang yang sakit atau tertimpa musibah, sistem saling menjaga lapak ketika ada yang berhalangan, solidaritas wong cilik yang dulu hilang di balik persaingan. Dan akar dari semua itu adalah kebaikan Bu Sri pada Bu Tin, bukti bahwa di tengah perjuangan hidup yang keras, solidaritas lebih kuat daripada persaingan.

• • •

Bu Tin sembuh, beberapa minggu kemudian, dan kembali ke pasar. Dan ketika ia kembali ke lapaknya, yang dijaga Bu Sri selama ia sakit, dengan hasil yang utuh diserahkan ke keluarganya, ia menangis terharu.

“Bu Sri, ” katanya, memeluk saingan yang kini sahabatnya. “Kamu nyelametin keluarga saya. Tanpa kamu, anak-anak saya, cucu yatim saya, mereka tidak akan makan selama saya sakit. Kamu, saingan saya, yang nolong. Saya tidak akan pernah lupa ini. ”

“Kita bukan saingan lagi, Bu Tin, ” kata Bu Sri. “Kita sahabat sekarang. Sesama pejuang subuh. ”

Dan persaingan mereka berubah selamanya. Mereka tetap berjualan bersebelahan, tetapi tak lagi berperang. Sebaliknya, mereka bekerja sama, saling melengkapi dagangan, saling menjaga ketika satu berhalangan, saling berbagi pembeli alih-alih merebut. Dan anehnya, dengan bekerja sama, keduanya justru lebih laris daripada ketika berperang. Karena pembeli senang melihat dua pedagang yang ramah dan saling mendukung, bukan dua pedagang yang berebut dan saling sindir.

• • •

Bertahun-tahun kemudian, Bu Sri dan Bu Tin menjadi legenda Pasar Subuh, dua pedagang yang dulu bersaing sengit, lalu jadi sahabat tak terpisahkan setelah salah satu menolong yang lain di saat susah. Kisah mereka diceritakan pada pedagang-pedagang baru sebagai pelajaran tentang solidaritas.

“Dulu Bu Sri sama Bu Tin musuhan, lho, ” begitu cerita yang beredar. “Perang tiap subuh, berebut pembeli. Tapi pas Bu Tin sakit, Bu Sri yang nolong, jagain lapaknya, kasih makan keluarganya. Sejak itu mereka jadi sahabat. Dan dari situ, kita semua belajar, sesama pedagang kecil, harusnya saling bantu, bukan saling jatuhin. ”

Dan ketika Bu Sri dan Bu Tin akhirnya terlalu tua untuk berjualan, mereka mewariskan lapak mereka, dan persahabatan mereka, pada anak-anak mereka, yang melanjutkan berjualan bersebelahan, bukan sebagai saingan, melainkan sebagai keluarga.

• • •

Pasar Subuh Karangrejo terus buka setiap pukul tiga dini hari, dengan para pedagang yang datang membawa sayur segar di udara dingin sebelum matahari terbit. Tetapi sejak kisah Bu Sri dan Bu Tin, ada yang berbeda: para pedagang tak lagi sekadar bersaing. Mereka saling menjaga, saling membantu, saling mendukung, sebuah komunitas wong cilik yang memahami bahwa di tengah perjuangan hidup yang keras, mereka lebih kuat bersama daripada sendiri-sendiri.

“Persaingan itu wajar, ” kata Bu Sri, ketika ditanya tentang kisahnya, di usia tuanya. “Kita semua butuh hidup, butuh nyari nafkah. Tapi jangan sampai persaingan bikin kita lupa kemanusiaan. Pas saingan kita susah, pas keluarganya terancam, di situ kita harus pilih: mau menang, atau mau jadi manusia. ” Ia tersenyum. “Saya pilih jadi manusia. Dan ternyata, itu kemenangan yang jauh lebih berharga daripada monopoli pembeli mana pun. Karena saya tidak cuma dapat pelanggan, saya dapat sahabat. Dan sahabat, di antrean subuh yang dingin dan keras ini, itu lebih hangat daripada penghasilan sebanyak apa pun. ”

Dan setiap subuh, di Pasar Karangrejo, antrean pembeli terbentuk di depan lapak-lapak sayur, termasuk lapak yang dulu jadi medan perang Bu Sri dan Bu Tin, kini jadi monumen persahabatan. Bukti bahwa kadang, musuh terbesar kita bisa menjadi sahabat terbaik kita, asalkan kita cukup berbesar hati untuk memilih solidaritas daripada persaingan, kemanusiaan daripada kemenangan, dan kebaikan daripada gengsi, bahkan di pagi paling dingin dan perjuangan paling keras.

Comments (0)

Sign in to leave a comment.

No comments yet. Be the first!