Bagian 1

LAGU LAMA DI FREKUENSI RADIO

by AAR Nugroho7 mnt baca
0 kalimat

Setiap malam pukul sebelas, di frekuensi 88.8 FM, ada acara radio bernama “Lagu untuk yang Jauh”. Penyiarnya hanya menyebut dirinya “Suara Malam”, dan acaranya sederhana: orang-orang mengirim pesan untuk seseorang yang jauh, lalu Suara Malam memutarkan lagu untuk mereka.

Aku menemukannya tak sengaja, di malam-malam insomnia setelah kepindahanku ke kota baru. Suara penyiar itu, lembut, serak, hangat, jadi teman begadangku. Dan lagu-lagu yang ia putar, semuanya lagu lama, seolah dipilih khusus untuk hati yang sedang merindukan sesuatu yang tak bisa diberi nama.

Suatu malam, aku memberanikan diri mengirim pesan: Untuk Suara Malam. Aku tidak punya seseorang yang jauh untuk kukirimi lagu. Tapi suaramu membuat malam-malam sepiku terasa kurang sepi. Terima kasih.

Tak kusangka, ia membacakannya di udara.

• • •

“Ada pesan manis malam ini, ” kata Suara Malam, suaranya mengalun lewat speaker ponselku. “Dari seseorang yang tak punya orang jauh, tapi merasa kurang sepi karena acara ini. Tahu tidak? Kau juga membuat malamku kurang sepi. Penyiar juga manusia, juga begadang, juga kadang kesepian. ” Ada jeda. “Lagu ini untukmu. Semoga malam-malammu makin hangat. ”

Lalu ia memutar lagu lama yang, entah bagaimana, persis menggambarkan perasaanku malam itu.

Aku tersenyum di kegelapan kamarku, merasa, untuk pertama kalinya sejak pindah, ada yang benar-benar mendengar.

• • •

Maka dimulailah kebiasaan kami. Tiap malam, aku mengirim pesan. Tiap malam, ia membacakannya, lalu memutarkan lagu. Kami tak pernah bertukar nama asli, tak pernah bertukar wajah. Hanya kata-kata di udara, antara seorang penyiar misterius dan pendengar setia di pukul sebelas malam.

Lewat pesan-pesan itu, kami saling mengenal dengan cara yang aneh dan intim. Aku tahu Suara Malam menyukai kopi pahit dan hujan. Ia tahu aku baru pindah, kesepian, dan sedang berusaha memulai hidup baru. Aku tahu ia sudah menyiarkan acara ini selama lima tahun. Ia tahu lagu-lagu lama selalu membuatku menangis.

“Kenapa selalu lagu lama? ” tanyaku suatu malam lewat pesan.

Jawabannya, di udara, terdengar melankolis: “Karena lagu lama menyimpan waktu. Tiap kali kau memutarnya, kau kembali ke saat pertama kali kau mendengarnya. Lagu lama adalah mesin waktu paling murah yang pernah diciptakan manusia. ”

• • •

Bulan-bulan berlalu. Aku jatuh cinta pada suara yang bahkan tak kutahu wajahnya. Konyol, mungkin. Tapi cinta jarang masuk akal.

“Aku ingin bertemu denganmu, ” tulisku akhirnya, suatu malam, jantung berdebar saat menekan kirim.

Lama ia tak membacakannya. Aku mulai menyesal, takut sudah merusak segalanya. Lalu, di akhir acara, suaranya kembali, lebih pelan dari biasanya.

“Ada pendengar yang ingin bertemu, ” katanya. “Dan aku… aku juga ingin. Lebih dari yang seharusnya kuakui. Tapi ada hal yang harus kau tahu tentangku dulu. Hal yang membuatku ragu. ” Ada jeda panjang. “Mungkin lain malam aku akan berani menceritakannya. Untuk sekarang, lagu ini untukmu, dan untuk pertanyaan yang belum bisa kujawab. ”

Lagu yang ia putar malam itu adalah tentang seseorang yang mencintai dari jauh, takut mendekat karena takut mengecewakan.

• • •

Butuh berminggu-minggu sebelum Suara Malam akhirnya bercerita. Dan ketika ia bercerita, suaranya bergetar di udara.

“Pendengarku yang setia, ” katanya, “kau bertanya kenapa aku ragu bertemu. Ini alasannya. Lima tahun lalu, aku mengalami kecelakaan. Wajahku… tidak seperti dulu. Banyak bekas luka. Aku memilih jadi penyiar radio karena di sini, tak ada yang melihat wajahku. Hanya suara. Dan suara, syukurlah, tak terluka. ” Ia menarik napas. “Aku takut bertemu denganmu. Takut kau melihatku, lalu suara yang kau cintai jadi tak berarti dibanding wajah yang kau lihat. ”

Aku menangis mendengarnya. Lalu, dengan tangan gemetar, kukirim pesan, pesan yang kuharap ia bacakan, tapi lebih dari itu, kuharap ia percayai.

• • •

Ia membacakannya di udara, suaranya pecah di tengah:

“Suara Malam, ” begitu pesanku, “kau pernah bilang lagu lama adalah mesin waktu. Tapi kau salah tentang satu hal. Yang membuat lagu lama berharga bukan bagaimana ia terdengar, banyak lagu lama yang kualitas rekamannya buruk, penuh desis dan retak. Yang membuatnya berharga adalah perasaan yang ia bawa, kenangan yang ia simpan, jiwa di baliknya. Aku tidak jatuh cinta pada wajahmu, karena aku tak pernah melihatnya. Aku jatuh cinta pada jiwamu, yang kudengar tiap malam selama berbulan-bulan. Bekas luka tidak mengubah itu. Tidak akan pernah. ”

Hening di udara. Lalu, untuk pertama kalinya dalam sejarah acaranya, Suara Malam menangis di siaran langsung.

• • •

Kami bertemu di sebuah kafe yang buka tengah malam, seminggu kemudian. Aku datang lebih awal, jantung berdebar, tak tahu harus mencari siapa karena tak pernah melihat wajahnya.

Lalu seorang perempuan masuk, ya, perempuan, karena selama ini aku, pendengar perempuan, mengira “Suara Malam” lelaki, dan ternyata kami berdua sama-sama salah mengira tentang banyak hal. Setengah wajahnya memang ditandai bekas luka, jelas dari kecelakaan yang ia ceritakan. Tapi matanya, mata itu menyimpan semua kehangatan yang selama ini kudengar di udara.

“Kau…” ia ragu di ambang pintu.

“Aku pendengarmu, ” kataku, berdiri. “Yang tak punya orang jauh, tapi tiap malam menunggu suaramu. ”

Ia tersenyum, senyum yang sedikit miring karena bekas luka, tapi paling tulus yang pernah kulihat. “Dan kau persis seperti yang kubayangkan, ” katanya. “Hangat. Bahkan dari cara kau berdiri. ”

• • •

Cinta kami, yang lahir di udara, ternyata bertahan di darat.

Namanya Senja, nama yang cocok untuk seseorang yang bersinar di waktu antara terang dan gelap. Kami berkencan seperti pasangan biasa, tapi dengan ritual yang tak biasa: tiap malam pukul sebelas, aku menemaninya siaran. Aku duduk di studio kecilnya, menyeduh kopi pahit yang ia suka, mendengarkannya membacakan pesan-pesan orang lain dan memutarkan lagu-lagu lama.

Dan kadang, di sela acara, ia akan berkata di udara: “Lagu ini untuk seseorang yang dulu mengirim pesan bilang ia tak punya orang jauh. Sekarang, orang itu duduk di sebelahku. Ternyata yang jauh akhirnya jadi yang paling dekat. ”

Para pendengar setia, yang sudah seperti keluarga, selalu mengirim ucapan selamat tiap kali ia menyebutku.

• • •

Senja mengajariku banyak hal tentang luka dan keberanian.

“Aku dulu benci cermin, ” katanya suatu malam, saat kami berbaring menatap langit-langit. “Setelah kecelakaan, aku tak bisa melihat wajahku tanpa menangis. Aku sembunyi di balik mikrofon karena suara tak punya bekas luka. ” Ia menoleh padaku. “Tapi kau membuatku berani melihat cermin lagi. Karena kau melihatku, seluruh diriku, dan tetap memilih tinggal. ”

“Senja, ” kataku, “bekas lukamu adalah bukti bahwa kau selamat. Bahwa kau bertahan. Bagiku, itu bukan sesuatu untuk disembunyikan. Itu sesuatu untuk dibanggakan. ”

Ia menangis, lalu tertawa, lalu memelukku erat-erat.

• • •

Kami menikah di studio radio itu, tempat paling tak lazim untuk pernikahan, tapi paling bermakna bagi kami. Acara “Lagu untuk yang Jauh” malam itu jadi siaran spesial: pernikahan disiarkan langsung, dan ratusan pendengar setia mengirim ucapan, lagu, dan doa.

Saat aku mengucapkan janji, aku berkata di mikrofon, agar semua pendengar mendengar: “Aku jatuh cinta pada Senja sebelum aku melihat wajahnya. Aku jatuh cinta pada jiwanya, suaranya, kehangatannya. Dan ketika akhirnya aku melihatnya, bekas luka dan semuanya, aku hanya jatuh cinta lebih dalam. Karena ternyata, jiwa seindah itu pantas dapat wajah yang menunjukkan betapa kuatnya ia bertahan. ”

Senja, di sebelahku, menangis bahagia, dan untuk pertama kalinya, ia tak menutupi sisi wajahnya yang terluka di depan mikrofon, di depan dunia.

• • •

Bertahun-tahun kemudian, acara “Lagu untuk yang Jauh” masih mengudara tiap malam pukul sebelas. Tapi kini Senja tak lagi sendirian di studio. Aku selalu di sampingnya, menyeduh kopi pahit, memilihkan lagu-lagu lama, menemaninya melayani para pendengar yang kesepian di malam hari.

Suatu malam, seorang pendengar muda mengirim pesan: Suara Malam, bagaimana caranya tahu kalau seseorang benar-benar mencintaimu, bukan cuma penampilanmu?

Senja membacanya, lalu menatapku, lalu menjawab di udara dengan suara yang masih sehangat malam pertama kudengar dulu:

“Mudah, ” katanya. “Cinta sejati adalah ketika seseorang jatuh cinta pada bagian dirimu yang tak bisa dilihat mata. Suaramu. Pikiranmu. Caramu memperlakukan orang lain. Dan ketika ia akhirnya melihat seluruh dirimu, termasuk bagian yang kau anggap cacat, ia tidak berpaling. Ia justru mendekat. ” Ia meraih tanganku. “Aku tahu, karena aku mengalaminya. Lagu malam ini kupersembahkan untuk semua orang yang takut tak dicintai karena luka mereka. Percayalah, ada orang yang akan mencintaimu justru karena, bukan meski, lukamu. ”

Lalu ia memutar lagu lama kesukaan kami, lagu pertama yang dulu ia putar untukku, malam pertama aku mengirim pesan, dan di studio kecil itu, di frekuensi 88.8 FM, dua orang yang dipertemukan oleh suara di udara duduk berdampingan, bukti hidup bahwa cinta terdalam sering dimulai dari hal yang tak terlihat sama sekali.

Comments (0)

Sign in to leave a comment.

No comments yet. Be the first!