Rani membuka rolling door Laundry Mentari pukul enam lewat lima belas. Besi tua itu berderit panjang, lalu udara lembap dari dalam toko keluar membawa bau deterjen, pelembut pakaian, dan uap setrika yang tersisa dari malam sebelumnya. Jalan di depan ruko belum ramai. Hanya ada tukang sayur yang mendorong gerobak, satpam komplek yang menguap di pos, dan suara motor pertama yang lewat dengan lampu masih menyala.
Laundry Mentari buka dua puluh empat jam karena pemiliknya, Bu Ratih, percaya bahwa baju kotor tidak mengenal jam kantor. Bagi Rani, kalimat itu terdengar lucu saat pertama kali ia melamar kerja. Setelah tiga bulan memegang giliran pagi, ia mulai paham maksudnya. Orang datang membawa pakaian, tapi sering pulang setelah meninggalkan sedikit cerita.
Rani menyalakan lampu neon, memeriksa nota yang ditinggalkan pegawai malam, lalu menata kantong cucian berdasarkan warna penanda. Merah untuk ekspres, biru untuk reguler, kuning untuk setrika saja. Di sudut ruangan, tiga mesin cuci berdengung pelan seperti orang yang baru bangun dan belum siap diajak bicara.
Pelanggan pertama datang pukul enam empat puluh. Namanya Pak Yusuf, sopir travel antar kota yang selalu memakai jaket cokelat dan sandal gunung. Ia membawa satu kantong plastik hitam berisi seragam, handuk kecil, dan kemeja putih yang dilipat hati-hati terpisah dari pakaian lain.
“Yang putih ini bisa selesai sore, Mbak? ” tanyanya.
“Bisa, Pak. Mau dipakai acara? ”
Pak Yusuf mengangguk, lalu tersenyum malu. “Anak saya wisuda. Saya langsung berangkat habis antar penumpang dari Cirebon. Takut bajunya kusut kalau dibawa di mobil. ”
Rani menulis nota dengan lebih pelan dari biasanya. Ia memberi label ekspres pada kemeja itu, meski Pak Yusuf hanya membayar layanan biasa. Bukan karena ia ingin jadi pahlawan. Hanya karena kemeja putih untuk wisuda anak rasanya tidak pantas menunggu terlalu lama di dasar keranjang.
Menjelang pukul sembilan, toko mulai sibuk. Seorang mahasiswi menitipkan seprai bermotif daun sambil menahan kantuk. Pegawai minimarket datang membawa dua kantong seragam yang bau hujan. Ibu muda dari blok belakang meminta kaus anaknya dipisahkan karena kulit anak itu mudah gatal jika kena pelembut pakaian.
Rani mencatat semuanya. Tidak boleh pakai pewangi. Jangan dicampur warna gelap. Tolong lipat kecil agar muat di koper. Tolong jangan hilangkan saputangan biru.
Pekerjaan laundry tampak sederhana dari luar: timbang, cuci, keringkan, setrika, bungkus. Tetapi setiap kantong punya aturan kecil yang tidak tertulis. Setiap orang punya cara sendiri menjaga hidupnya tetap rapi, walau hanya melalui pakaian yang kembali bersih pada sore hari.
Ketika mesin kedua berhenti, Rani menemukan sebuah karcis bus terselip di saku celana jeans pelanggan. Tujuannya Purwokerto, tanggalnya sudah lewat dua minggu. Ia menaruh karcis itu di kotak barang tertinggal, bersama kancing, uang logam, peniti, dan satu foto ukuran dompet yang belum pernah diambil pemiliknya.
Hujan turun tiba-tiba setelah zuhur. Air memukul kanopi ruko dengan suara rapat. Orang-orang berlari menepi, beberapa berdiri sebentar di depan Laundry Mentari sambil pura-pura melihat daftar harga. Rani menurunkan suhu setrika, lalu mengangkat pakaian dari pengering.
Di antara uap hangat dan suara hujan, ia teringat ibunya di kampung yang dulu mencuci pakaian keluarga dengan tangan di sumur belakang rumah. Ibu selalu bilang baju bersih membuat orang berani keluar rumah, meski hatinya sedang kusut. Dulu Rani menganggap kalimat itu terlalu puitis untuk urusan sabun. Kini, setiap kali melihat pelanggan menerima pakaian yang rapi, ia merasa ibunya mungkin benar.
Pak Yusuf kembali pukul lima kurang sepuluh. Rambutnya masih basah oleh gerimis, dan wajahnya tampak lelah, tetapi matanya langsung terang ketika Rani menyerahkan kemeja putih yang sudah disetrika licin.
“Wah, rapi sekali, ” katanya, memegang gantungan itu seperti memegang sesuatu yang mudah pecah.
“Semoga acaranya lancar, Pak. ”
Pak Yusuf membayar, lalu berhenti di ambang pintu. “Terima kasih ya, Mbak. Anak saya orang pertama di keluarga yang pakai toga. ”
Rani hanya mengangguk. Ada kalimat yang terlalu besar untuk dijawab dengan ucapan panjang.
Malam turun pelan. Lampu toko memantul di kaca depan, membuat ruangan kecil itu terlihat lebih hangat daripada sebenarnya. Rani menyusun paket terakhir di rak pengambilan, mematikan satu mesin yang sudah selesai bekerja, lalu menulis catatan untuk pegawai malam.
Di luar, orang-orang pulang membawa payung, tas kerja, dan kantong cucian yang sudah bersih. Besok pagi, keranjang kotor akan penuh lagi. Nota baru akan ditulis. Mesin akan kembali berdengung. Hidup orang lain akan datang dalam bentuk pakaian kusut, lalu pergi sedikit lebih rapi dari sebelumnya.
Rani menutup buku nota dan tersenyum tipis. Untuk hari itu, rasanya cukup.