Dokter bilang namanya prosopagnosia. Buta wajah. Setelah kecelakaan itu, Arini bisa mengenali suara, langkah, bahkan aroma parfum seseorang, tapi tidak wajah. Termasuk wajahku. Termasuk wajah suaminya sendiri.
“Maaf, ” katanya pertama kali ia sadar di rumah sakit, menatapku dengan sopan seperti menatap orang asing. “Apakah kita… saling kenal? ”
Tiga kata itu menghancurkanku lebih dari kabar kecelakaannya.
Aku Bima. Sudah lima tahun menjadi suami Arini. Dan kini, di mata istriku, aku hanyalah seraut wajah yang tak punya arti, sama seperti wajah perawat atau dokter yang lalu-lalang.
“Aku tahu ini berat, ” kata dokter, “tapi ingatannya utuh. Ia ingat siapa Anda, ingat kenangan kalian. Ia hanya tidak bisa mengenali wajah Anda secara visual. Bantu ia mengenali Anda lewat hal lain. ”
Maka aku belajar menjadi suami yang dikenali tanpa wajah.
Aku mulai selalu memakai parfum yang sama, yang katanya dulu ia sukai. Aku belajar agar langkahku punya ritme khas, agar ia tahu aku datang sebelum melihatku. Aku menghafal kalimat-kalimat yang dulu sering kuucapkan, agar suaraku jadi penanda.
“Bima? ” tanyanya suatu pagi, saat aku masuk kamar.
“Iya, ini aku. ”
“Aku tahu dari caramu menutup pintu. Pelan, lalu kau berdeham. ” Ia tersenyum, dan senyum itu, meski matanya tak benar-benar mengenaliku, adalah hadiah terbesar hari itu.
Tapi tidak semua hari semudah itu.
Ada pagi ketika ia bangun panik, menatapku seperti penyusup. “Siapa kamu? Kenapa kamu di kamarku? ” Dan aku harus menjelaskan lagi, dari awal, bahwa aku suaminya, sambil menahan air mata agar ia tak merasa bersalah.
Ada sore ketika kami berpapasan di pusat perbelanjaan, aku sengaja memberinya ruang untuk berlatih mandiri, dan ia tak mengenaliku sama sekali, berjalan melewatiku seperti melewati patung. Aku berdiri di lorong itu, menatap punggung istriku yang menjauh, merasa lebih kehilangan daripada saat ia koma.
Malamnya aku menangis di kamar mandi, pelan, agar ia tak dengar.
“Bima, ” katanya suatu malam, saat kami duduk di beranda. “Aku tahu ini menyiksamu. Memiliki istri yang tidak bisa mengenali wajahmu sendiri. ”
“Tidak apa-apa, ” kataku, refleks.
“Jangan bohong. Aku mungkin tidak bisa lihat wajahmu, tapi aku kenal suaramu. Dan suaramu sedang berbohong. ”
Aku terdiam. Ia selalu bisa membaca yang tak terlihat.
“Aku takut, ” kataku akhirnya, suaraku pecah. “Takut suatu hari kau bertemu lelaki lain, mengobrol, dan jatuh cinta lagi, tanpa tahu bahwa dia bukan aku. Takut kau tidak akan pernah bisa membedakanku dari orang asing mana pun di jalan. ”
Arini meraih tanganku dalam gelap. Jari-jarinya menyusuri telapakku, punggung tanganku, garis-garis di buku jariku.
“Bima, ” katanya pelan, “aku memang tidak bisa mengenali wajahmu. Tapi aku hafal tanganmu. Bekas luka di ibu jari kananmu, kapalan di telapak karena kau suka berkebun. Aku hafal caramu menggenggam, erat tapi tidak menyakiti. Tidak ada lelaki lain yang punya tangan ini. ”
Sejak malam itu, kami menciptakan bahasa baru.
Arini mengenaliku bukan dari wajah, melainkan dari seribu hal kecil yang dulu tak pernah kami sadari. Cara aku mengaduk kopi tiga kali searah jarum jam. Dengkur halus saat aku tidur. Aroma keringat setelah berkebun yang katanya, anehnya, membuatnya merasa aman. Lagu yang selalu kusenandungkan saat mencuci piring.
“Kau tahu, ” katanya suatu hari, “mungkin ini terdengar gila. Tapi sejak aku tidak bisa melihat wajahmu, aku jadi lebih mengenalmu daripada lima tahun sebelumnya. ”
“Kok bisa? ”
“Karena dulu aku cuma melihat wajahmu, dan mengira itu sudah cukup untuk bilang aku mengenalmu. Sekarang aku terpaksa mengenal segala hal lain. Dan ternyata, kamu jauh lebih banyak daripada sekadar wajah. ”
Genap setahun setelah kecelakaan, kami kembali ke pantai tempat kami dulu berbulan madu. Arini tak bisa mengenali wajahku di antara pengunjung lain. Tapi saat aku menggenggam tangannya, ia langsung tahu.
“Bima, ” katanya, tersenyum, menatap laut yang tak benar-benar bisa ia lihat detailnya.
“Bagaimana kau yakin ini aku? ”
“Karena hanya kamu yang menggenggam tanganku seperti ini. ” Ia mengeratkan jarinya. “Seolah takut kehilangan, tapi percaya tidak akan. ”
Aku menatap istriku, perempuan yang tak bisa mengenali wajahku namun mengenal kebiasaanku lebih dari siapa pun. Ia tahu caraku berjalan. Ia tahu suaraku saat menahan cemas. Ia tahu genggaman tanganku saat aku takut kehilangan dia.
“Arini, ” kataku, “terima kasih sudah tetap memilihku, meski kau harus belajar mengenaliku dari awal. ”
Ia menyandarkan kepala di bahuku. “Memangnya kenapa harus susah-susah? Kau suamiku. Wajahmu boleh hilang dari ingatanku, tapi kamu tidak. Tidak akan pernah. ”
Bertahun-tahun kemudian, prosopagnosia itu tak pernah benar-benar sembuh. Arini masih tak bisa mengenali wajahku di foto, masih sesekali bingung di tengah keramaian.
Tapi ia tak pernah sekali pun salah mengenaliku saat kami bersentuhan. Di antara ratusan tangan, ia selalu tahu mana milikku. Di antara ribuan suara, ia selalu menoleh saat aku memanggil.
Istriku tak pernah lagi mengenali wajahku dengan mudah. Tapi setiap hari, saat aku pulang dan memanggil namanya, ia tetap menoleh. Saat tanganku menyentuh tangannya, ia tetap tahu itu aku.